Rabu, 06 Juli 2011
JANGAN KERASKAN HATIMU
Beberapa detik kemudian, ia menerima sebuah pesan jawaban. Pesan itu berkata, “Tidak dapat melakukannya. Ubahlah jalur Anda sepuluh derajat ke barat.”
Kapten itu menjadi marah. Ia mengirimkan pesan tidak jelas lainnya. “Aku adalah seorang kapten angkatan laut. Aku menuntutmu mengubah jalurmu.”
Ia menerima pesan kembali beberapa detik kemudian. Pesan itu berbunyi, “Aku adalah kelasi kelas dua. Tidak dapat melakukannya. Ubahlah jalur Anda.”
Kapten itu sekarang sangat marah. Ia mengirimkan sebuah pesan terakhir. Bunyinya, “Aku adalah sebuah kapal perang, dan aku tidak mau mengubah jalurku!”
Ia mendapat pesan pendek sebagai jawaban. Bunyinya, “Aku adalah sebuah mercusuar. Itu pilihan Anda, pak.
Saudaraku terkasih,
Sering kali, kita seperti kapten angkatan laut itu, kita dapat keras hati dan keras kepala. Kita dapat memikirkan semua alasan mengapa kita tidak akan berubah : Mereka sangat menyakitiku, Mereka terlalu bersalah kepadaku, Aku tidak mau mengampuni.
Alkitab merupakan mercusuar pribadi Anda, yang menyinarkan kebenaran dalam kehidupan Anda, dengan mengatakan bahwa Anda harus merubah jalur Anda. Pengampunan adalah sebuah pilihan, tetapi itu bukan pilihan lain. Yesus menyatakan dengan cara ini: “Jika engkau tidak mengampuni orang-orang lain, Bapamu di sorga tidak akan mengampunimu.” (Matius 6:15)
But if you do not forgive others their trespasses, neither will your Father forgive you your trespasses.
Bila Anda memelihara sikap tidak mau mengampuni Anda sedang menuju masalah. Anda ada pada jalan yang menghancurkan. Dan Tuhan sedang memerintahkan untuk mengubah jalur Anda.
-------------
LORD JESUS bless you and me, now and forever. Amen.
Sumber: http://giajemursarisurabaya.blogspot.com/
Kamis, 30 Juni 2011
Tuhan Yesus Sahabatku.
Setiap kali berhasil menyebrangi jalan raya tersebut, bocah ini mampir sebentar ke Gereja tiap pagi hanya untuk menyapa Tuhan, sahabatnya.
Tindakannya ini selama ini diamati oleh seorang Pendeta yang merasa terharu menjumpai sikap bocah yang lugu dan beriman tersebut.
“Bagaimana kabarmu, Andy? Apakah kamu akan ke Sekolah?”
“Ya, Bapa Pendeta!” balas Andy dengan senyumnya yang menyentuh hati Pendeta tersebut.
Dia begitu memperhatikan keselamatan Andy sehingga suatu hari dia berkata kepada bocah tersebut, “Jangan menyebrang jalan raya sendirian, setiap kali pulang sekolah, kamu boleh mampir ke Gereja dan saya akan memastikan kamu pulang ke rumah dengan selamat.”
“Terima kasih, Bapa Pendeta.”
“Kenapa kamu tidak pulang sekarang? Apakah kamu tinggal di Gereja setelah pulang sekolah?”
“Aku hanya ingin menyapa kepada Tuhan.. sahabatku.”
Dan Pendeta tersebut meninggalkan Andy untuk melewatkan waktunya di depan altar berbicara sendiri, tetapi pastur tersebut bersembunyi di balik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andy kepada Bapa di Surga.
“Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun temanku melakukannya. Aku makan satu kue dan minum airku. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanya kue ini.
Terima kasih buat kue ini, Tuhan! Tadi aku melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya.. lucunya, aku jadi tidak begitu lapar.
Lihat ini selopku yang terakhir. Aku mungkin harus berjalan tanpa sepatu minggu depan.Engkau tahu sepatu ini akan rusak, tapi tidak apa-apa..
paling
tidak aku tetap dapatpergi ke sekolah. Orang-orang berbicara bahwa kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, bahkan beberapa dari temanku sudah berhenti sekolah, tolong Bantu mereka supaya bisa bersekolah lagi.
Tolong Tuhan.
Oh, ya..Engkau tahu kalau Ibu memukulku lagi. Ini memang menyakitkan, tapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling tidak aku masih punya seorang Ibu.
Tuhan, Engkau mau lihat lukaku??? Aku tahu Engkau dapat menyembuhkannya, disini..disini.aku rasa Engkau tahu yang ini kan….??? Tolong jangan marahi ibuku, ya..?? dia hanya sedang lelah dan kuatir akan kebutuhan makan dan biaya sekolahku..itulah mengapa dia memukul aku.
Oh, Tuhan..aku rasa, aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang sangat cantik dikelasku, namanya Anita. menurut Engkau, apakah dia akan menyukaiku??? Bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak usah menjadi siapapun hanya untuk menyenangkanMu. Engkau adalah sahabatku.
Hei.ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira??? Tunggu saja sampai Engkau lihat, aku punya hadiah untukMu. Tapi ini kejutan bagiMu.
Aku berharap Engkau menyukainya. Oooops..aku harus pergi sekarang.”
Kemudian Andy segera berdiri dan memanggil Pendeta .
“Bapa Pendeta..Bapa Pendeta..aku sudah selesai bicara dengan sahabatku, anda bisa menemaniku menyebrang jalan sekarang!”
Kegiatan tersebut berlangsung setiaphari, Andy tidak pernah absen sekalipun.
Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat suatu iman dan kepercayaan yang murni kepada Tuhan.. suatu pandangan positif dalam situasi yang negatif.
Pada hari Natal, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga tidak bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Gereja tersebut diserahkan kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum dan selalu menyalahkan segala sesuatu yang orang lain perbuat. Mereka juga mengutuki orang yang menyinggung mereka.
Ketika mereka sedang berdoa, Andypun tiba di Gereja tersebut usai menghadiri pesta Natal di sekolahnya, dan menyapa “Halo Tuhan..Aku..”
“Kurang ajar kamu, bocah!!!tidakkah kamu lihat kalau kami sedang berdoa???!!! Keluar, kamu!!!!!”
Andy begitu terkejut,”Dimana Bapa Pendeta Agaton..??Seharusnya dia membantuku menyeberangi jalan raya. dia selalu menyuruhku untuk mampir lewat pintu belakang Gereja. Tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Tuhan Yesus, karena hari ini hari ulang tahunNya, akupun punya hadiah untukNya..”
Ketika Andy mau mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerahnya dan mendorongnya keluar Gereja.
“Keluar kamu, bocah!..kamu akan mendapatkannya!!!”
Andy tidak punya pilihan lain kecuali sendirian menyebrangi jalan raya yang berbahaya tersebut di depan Gereja. Lalu dia menyeberang, tiba-tiba sebuah bus datang melaju dengan kencang – disitu ada tikungan yang tidak terlihat pandangan. Andy melindungi hadiah tersebut didalam saku bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tersebut. Waktunya hanya sedikit untuk menghindar.dan Andypun tewas seketika. Orang-orang disekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh bocah malang tersebut yang sudah tidak bernyawa lagi.
Tiba-tiba, entah muncul darimana ada seorang pria berjubah putih dengan wajah yang halus dan lembut, namun dengan penuh airmata dating dan memeluk bocah malang tersebut. Dia menangis.
Orang-orang penasaran dengan dirinya dan bertanya,”Maaf tuan..apakah anda keluarga dari bocah yang malang ini? Apakah anda mengenalnya?”
Tetapi pria tersebut dengan hati yang berduka karena penderitaan yang begitu dalam berkata,”Dia adalah sahabatku.” Hanya itulah yang dikatakan.
Dia mengambil bungkusan hadiah dari dalam saku baju bocah malang tersebut dan menaruhnya didadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh bocah tersebut, kemudian keduanya menghilang. Orang-orang yang ada disekitar tersebut semakin penasaran dan takjub..
Di malam Natal, Pendeta Agaton menerima berita yang sangat mengejutkan.
Diapun berkunjung ke rumah Andy untuk memastikan pria misterius berjubah putih tersebut. Pendeta itu bertemu dengan kedua orang tua Andy.
“Bagaimana anda mengetahui putra anda telah meninggal?”
“Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari.” Ucap ibu Andy terisak.
“Apa katanya?”
Ayah Andy berkata,”Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sangat kesepian atas meninggalnya Andy, sepertinya Dia begitu mengenal Andy dengan baik. Tapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia menyibakkan rambut Andy dari wajahnya dan memberikan kecupan dikeningnya, kemudian Dia membisikkan sesuatu.
“Apa yang dikatakan?”
“Dia berkata kepada putraku..” Ujar sang Ayah. “Terima kasih buat kadonya.
Aku akan berjumpa denganmu. Engkau akan bersamaku.” Dan sang ayah melanjutkan, “Anda tahu kemudian semuanya itu terasa begitu indah.. aku menangis tapi tidak tahu mengapa bisa demikian. Yang aku tahu.aku menangis karena bahagia..aku tidak dapat menjelaskannya Bapa Pendeta, tetapi ketika dia meninggalkan kami, ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami, aku merasakan kasihnya yang begitu dalam di hatiku.. Aku tidak dapat melukiskan sukacita dalam hatiku. aku tahu, putraku sudah berada di Surga sekarang.
Tapi tolong Bapa Pendeta .. Siapakah pria ini yang selalu bicara dengan putraku setiap hari di Gerejamu? Anda seharusnya mengetahui karena anda selalu di sana setiap hari, kecuali pada saat putraku meninggal.
Pendeta Agaton tiba-tiba merasa air matanya menetes dipipinya, dengan lutut gemetar dia berbisik,”Dia tidak berbicara kepada siapa-siapa… kecuali dengan Tuhan.”
(^__^)..........GBU all
KISAH ANAK YG KEHILANGAN UANG 10.000
Paman anak tersebut merasa kasihan, kemudian dia menghampiri anak itu.
“Kenapa kamu menangis?” tanya pamannya dengan penuh kasih sayang.
“Uang saya hilang Rp10.000.” katanya sambil terisak-isak.
“Tenang saja, nich paman ganti yah… paman kasih Rp10.000 buat kamu. Jangan menangis yah!” kata pamannya sambil menyerahkan selembar uang Rp10.000. Namun, sia anak tetap saja menangis. Kenapa?
“Kenapa kamu masih menangis saja? Kan sudah diganti?” tanya pamannya.
“Kalau tidak hilang… uang saya sekarang Rp 20.000.” kata anak itu dan terus menangis.
Pamannya bingung…
“Terserah kamu saja dech….”, katanya sambil pergi.
Ayahnya yang baru pulang kantor mendapati anaknya masih menangis.
“Kenapa sayang? Koq menangis sich. Lihat mata kamu, sudah bengkak begitu. Nangis dari tadi yah?” tanyanya sambi menyeka air mata anaknya.
“Uang saya hilang Rp10.000.” kata anaknya mengadu.
“Ooohhh. Lho itu punya uang Rp10.000? Katanya hilang?” tanya ayahnya yang heran karena dia melihat anaknya memegang uang Rp10.000
“Ini dari paman…. uang saya hilang. Kalau tidak hilang saya punya Rp20.000.” jawabnya sambil terus menangis.
“Sudahlah…. nih ayah ganti. Ayah ganti dengan uang yang lebih besar. Ayah kasih kamu Rp20.000. Jangan menangis lagi yah!” kata ayahnya sambil menyerahkan selembar uang Rp20.000.
Si anak menerima uang itu. Tetapi masih tetap saja menangis. Ayahnya heran, kemudian bertanya lagi.
“Kenapa masih menangis saja? Kan sudah diganti?”
“Kalau tidak hilang, uang saya Rp40.000.”
Ayahnya hanya geleng-geleng kepala.
“Kalau gitu dikasih berapa pun, kamu akan nangis terus.” sambil mengendong anaknya.
Apakah kisah ini nyata? Tidak, ini hanya rekayasa. Dalam kenyataannya banyak orang yang memiliki sikap seperti anak tadi. Dia hanya melihat apa yang tidak ada, dia hanya melihat apa yang kurang, tanpa melihat sebenarnya dia sudah memiliki banyak hal. Sifat manusia yang selalu merasa kurang padahal berkat Tuhan begitu banyaknya sudah dia terima.
Jangan mencari apa yang tidak atau belum ada pada diri anda. Tapi bersyukurlah dengan apa yang ada, dan manfaatkan dengan sebaik-baiknya dan maksimal untuk kemajuan dan kesuksesan anda.
Bersyukurlah jika Anda merasa tersindir dengan dongeng motivasi di atas, artinya Anda perlu berubah sekarang.
SIAPA DI DALAMMU ?
Kaos bercorak abstrak plus lubang di sana-sini dipadu sama jeans belel super butut yang disobek-sobek di bagian lututnya.
Ditambah lagi model rambut yang agak acak-acakkan, sepertinya jadi stylish sekali deh.
Kalau dilihat terkesan cool and free gitu. Kira-kira yang jual kaos sama celana seperti ini di mana, ya? Pastinya mahal nih, baju bintang terkenal gitu.
Baju compang-camping seperti itu kalau dipakai Britney Spears jadi kelihatan lagi ngetrend, modis, dan mahal. Tapi coba baju yang sama dipakai sama seorang pengemis, pasti akan lain jadinya.
Kita menyangka itu orang benar-benar miskin, karena tidak punya uang buat beli baju, akhirnya baju compang-camping pun dipakai terus.
Terlihat sekali kan perbedaannya? Baju terlihat mahal atau murahan tergantung sekali sama siapa yang memakainya.
Nggak beda dengan hidup kita. Kita bisa saja terlihat punya nasib sama dengan orang lain, tapi yang membedakan berharga atau tidaknya kita adalah Siapa yang ada di dalam kita.
Bisa jadi kita punya background yang buruk, punya masalah ekonomi, masalah keluarga, tidak begitu cantik, tidakk begitu pintar, dan banyak lagi.
Tapi kenapa kita tak perlu minder dan putus asa dengan keadaan kita yang serba "butut" itu?
Tentu saja karena ada Roh Kudus dalam diri kita. Yang membuat kita begitu berharga bukanlah keadaan fisik dan materi duniawi yang kita miliki melainkan Roh Allah dalam hidup kita.
Jadi sadarilah betapa berharganya kita, karena Roh Allah yang bersedia tinggal dalam diri kita. Roh Kudus yang ada dalam diri kita bisa mengubah semua keadaan yang tidak baik menjadi sangat baik dan berharga.
(Galatia 2:20) namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.
I have been crucified with Christ; it is no longer I who live, but Christ lives in me; and the life I now live in the body I live by faith in the Son of God, Who loved me and gave Himself up for me.
--------
LORD JESUS bless you and me, now and forever. Amen.
Sumber: http://www.renungan-spirit.com/
Jumat, 24 Juni 2011
19 HAL PRIBADI YG MEMPESONA
Inilah 19 rahasia menjadi pribadi penuh pesona yang kami kembangkan dari pemikiran dr. Yul Iskandar, DSJ., MBAP.,MASRS., PhD. pendiri Yayasan Dharma Graha.
1. Berubahlah dengan waktu dan tempat!
Jangan selalu menuruti perasaan negatif, seperti: merasa bosan, lelah, jenuh, tersiksa dengan tempat atau masa lalu. Tersenyumlah, dan dunia akan tersenyum bersama anda! Menangislah, dan anda akan menangis sendirian! Mutiara kata ini mengisyaratkan agar kita selalu berbahagia dimana pun kita berada dan kapan pun. Jika kita merasa sebagai orang yang paling sedih atau menderita di dunia ini, yakinlah bahwa masih banyak orang lain yang lebih menderita daripada kita.
2. Carilah kenalan, teman, sahabat, relasi sebanyak-banyaknya!
Sering-seringlah bepergian, menjelajahi dunia. Semakin sering anda bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang, maka kepribadian anda akan semakin matang tanpa anda sadari.
3. Cintailah orang lain seperti mencintai diri sendiri.Dengan cinta, hidup menjadi indah, persahabatan menjadi langgeng, dan silaturahmi tetap terbina. Tentunya cinta yang diberikan secara tulus tanpa pamrih, tanpa mengharap balasan kecuali dari Allah semata.
4. Hargailah dan nikmatilah alam.
Dengan menghargai alam, jiwa menjadi tenang. Dengan menikmati alam hati menjadi senang. Temukanlah rahasia sesuatu itu tampak menarik, misalnya: bunga yang mekar, surya yang bersinar, sawah yang terhampar.
5. Hargailah orang lain.
Misalnya dengan cara membuatnya bahagia, tersenyum, tertawa, memberi pujian yang tulus. Membahagiakan orang lain akan membuatnya membahagiakan kita di saat yang tak terduga, percayalah!
6. Jaga tingkah laku.
Banyaklah mendengarkan dan berpikir daripada berbicara, kecuali bila waktunya untuk berbicara. Dengan menjaga lisan dan perbuatan kita, berarti setengah pertempuran hidup telah kita menangkan.
7. Jangan kekanak-kanakan.
Sikap dewasa menunjukkan kepribadian yang kuat dan mempesona. Betapa banyak orang tua yang bahkan belum dewasa! Salah satu tanda kedewasaan seseorang antara lain adalah dari sikap, tutur kata, dan caranya di dalam mengambil keputusan secara arif dan bijaksana.
8. Jangan mencari kesalahan orang lain.
Hidup kita terlalu singkat untuk melakukan hal ini.
9. Jangan rendah diri. Sudah seharusnyalah kita menerima dan memperbaiki kekurangan kita tanpa pernah merasa minder atau kecil di depan orang lain. Percayalah, tidak seorang manusia pun yang sempurna di muka bumi ini!
10. Jangan sombong.
Ketahuilah bahwa selalu ada yang lebih daripada kita. Kesombongan menandakan kekosongan.
11. Kembangkan minat pada berbagai hal.
Jangan membatasi diri anda, perluas bakat, minat, kemampuan, pengetahuan, dan keahlian anda. Memiliki satu keahlian atau spesialisasi akan terasa lebih baik dan sempurna jika ditunjang dengan keahlian dalam bidang yang lainnya, sehingga anda akan semakin "bersinar" dan penuh pesona.
12. Selalu baik pada orang lain.
Jangan pernah merasa dendam sekalipun kepada orang lain, bahkan kepada mereka yang pernah menyakiti kita. Cintailah yang di bumi, niscaya yang di langit akan mencintaimu.
13. Selalu belajar.
Semakin sering anda belajar, maka semakin banyak yang anda ketahui. Ilmu ini dapat menjadi lahan amal bagi anda, sehingga anda merasakan nikmatnya berbagi dan indahnya ilmu.
14. Selalu mengikuti informasi dan perkembangan terkini tentang apapun. Dengan banyak mengetahui hal yang paling baru, maka anda akan tampil semakin percaya diri dan penuh pesona. Semakin banyak hal baru yang anda tahu, maka akan semakin banyak pula yang mencari dan mengejar anda...yakinlah!
15. Selalu tegap, sigap, dan siap.
Posisi atau postur tubuh anda di dalam berkomunikasi dengan orang lain akan mengungkapkan siapa diri anda yang sebenarnya. Oleh karenanya, milikilah rencana, target, dan strategi (persiapan) yang matang dan semangat yang tak pernah pudar!
16. Selalu tersenyum pada orang lain.
Orang akan lebih senang melihat wajah yang dihiasi senyuman daripada wajah yang selalu disertai ratapan atau keluhan.
17. Senang bekerja sama dengan orang lain.
Inilah yang membuat jaringan (network) kita semakin luas, erat, dan kuat.
18. Senang menolong orang lain.
Dengan gemar menolong orang lain, maka pada hakikatnya kita menolong diri kita sendiri. Semakin banyak orang yang kita tolong, maka akan semakin sering pula kita ditolong oleh Allah dengan cara-Nya yang tak terduga.
19. Terimalah nasib apa adanya.
Tetaplah tenang dan tabah, ingatlah bahwa "badai pasti berlalu" dan "roda itu berputar". Jangan suka mengeluh, menggerutu, atau bahkan mencaci-maki nasib. Jangan sampai berkata atau menganggap bahwa Tuhan itu tidak adil! Justru di sinilah letak keadilan-Nya.
Dengan merenungi dan menerapkan semua hal di atas, maka menjadi pribadi penuh pesona saat ini bukanlah sesuatu hal yang mustahil bagi diri anda. Jika masih belum percaya, cobalah!
Sumber: 19 Hal Pribadi yang Mempesona
St. Sama'an el-Dabbagh & Mukzizat Gunung Mokattam di Mesir

Sama'an el-Dabbagh adalah seorang (Kristen) Koptik di Mesir yang hidup pada abad ke-10 Masehi. Di masa itu kaum Koptik yang notabene bangsa asli Mesir dibawah penguasaan kaum Arab-Muslim pada pemerintahan Kekhalifahan Al-Muizz yang berkuasa pada tahun 972 – 975 Masehi. Beliau adalah seorang tukang sepatu sederhana di Kairo pada saat itu, dimana beliau pernah menusukkan matanya saat tak sengaja melihat keindahan kaki seorang wanita yang ingin kakinya diukur untuk pembuatan sepatu. Meski setelah itu sahabatnya mempertanyakan keputusannya tersebut, beliau bersikukuh bahwa dirinya melakukan hal itu bukan untuk menolak keindahan yang diberikan Tuhan Allah, namun semata-mata beliau tak menginginkan dirinya yang lemah itu terjatuh dalam kenikmatan kegelapan.
Suatu hari sang Raja Arab penguasa Mesir Al-Muizz Li-Deenillah memerintahkan sebuah perdebatan antara kaum Yahudi yang diwakili oleh Yaacov ben Joseph ben Kyllis dan kaum Kristen Alexandria yang diwakili oleh Patriarch Abraham. Sang Raja tersebut dikenal dan terkenal sebagai seorang yang sangat rasionalis & oleh karenannya meminta keduanya membuktikan kebenaran keyakinan mereka.
Pihak Yahudi mengeluarkan kata-kata pamungkas kepada Sang Patriarch, katanya : “Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini pindah maka gunung ini akan pindah dan takkan ada yang mustahil bagimu”. “Dan hal ini tertulis dalam Kitab Sucimu ?” tanya Sang Raja dengan berdiri tiba-tiba dari kursinya. “Iya” jawab Sang Patriarch Alexandria itu yang notabene adalah orang Koptik. “Bukan memindahkan kursi atau meja atau rumah sekalipun, namun gunung ? Benarkah demikian ?” tanya Sang Raja. “Iya, Benar” kembali jawab Sang Patriarch. Baiklah bila demikian, tunjukkan padaku bila hal ini benar. Karena bila tidak maka keyakinanmu adalah palsu & oleh karenannya harus dimusnahkan.
Maka kemudian Patriarch Alexandria memerintahkan seluruh bangsa Koptik melakukan puasa selama 3 hari ( bangsa Koptik pada masa itu hingga kini keseluruhannya adalah Kristen Orthodox untuk membedakan kaum agama pendatang yang menjajahnya ). Sementara itu pada hari ketiga Sang Theotokos datang menghampiri Patriarch Abraham dan berkata : “Pergilah engkau untuk menemukan seorang bermata satu yang memiliki kebiasaan membawa minuman untuk dibagikan kepada sesama manusia. Dialah yang akan menunjukan kebesaran-Nya !”. Pergilah dengan sesegera Sang Patriach mencarinya ke tengah kota & akhirnya menemukan yang dimaksud oleh Theotokos yaitu Sama'an el-Dabbagh . Saat dijelaskan dengan seksama, beliau langsung pergi menuju ke batas kota Kairo dimana banyak orang mengikutinya.
Setibanya di batas kota Kairo, beliau menunjuk gunung yang dimaksud di hadapan Sang Raja & para pejabat istana. Gunung itu saat ini dikenal dengan nama Mokattam ( Muqattam yang dalam bahasa Arab artinya “Memotong” ) & memiliki ketinggian 500 kaki. Sama’an lalu meminta agar Sang Patriach meneriakkan doa : “Tuhan kasihanilah kami” sebanyak 3 kali & tiap kali setelahnya memberi tanda salib dihadapan gunung tersebut. Kemudian para jemaat Koptik mengikuti doa tersebut. Mereka melakukan doa “Tuhan kasihanilah kami” secara bersama-sama dengan Patriarch memberi tanda salib. Lalu di hadapan segenap massa Kairo yang menyaksikan, tiba-tiba gunung tersebut terangkat bagai kaki yang sedang melangkah, kemudian kembali kali kedua terangkat melangkah ... Saat itu Patriach mencari Sama’an dan hilanglah beliau. Namun pada angkatan kali ketiga, semua orang berteriak keras karena melihat Sama’an berlari masuk ke bawah gunung yang akan turun membumi tersebut.
Patriach Abraham tak bisa melakukan apa-apa selain memberi tanda salib dan berkata : Di dalam Nama Bapa, Putera & Roh Kudus, Tuhan kasihanilah kami. Amin ... lalu gunung tersebut turun kembali menyatu dengan bumi.
Al-Muizz Sang Raja tak mampu berkata-kata, ia bahkan tak mampu berbuat apapun selain jatuh berlutut dan berkata : “Tuhan kasihanilah aku, Tuhan kasihanilah aku, Tuhan kasihanilah aku. Ini diluar segala pikiranku”. Setelahnya ia datang sendiri menghadap Patriach Alexandria tanpa kawalan dan tanpa pejabat, meminta agar dirinya dibaptis. Kemudian ia dibaptis dalam nama Bapa, Putera & Roh Kudus di Gereja St. Merkurius. Lalu ia pergi meninggalkan segala jabatan kekuasaannya & segala harta bendanya. Hingga kini tempat baptisannya masih dikenal dengan sebutan ‘Maamoudiat Al-Sultan’ yang artinya ‘Pembaptisan Sultan’.
Sementara pada tanggal 4 Agustus 1991, penggalian Arkeologi menemukan kerangka St. Sama’an dibawah gunung Mokattam.
*Bismil Abi wal Ibni wa Ruhil Quddus al-Ilahu Wahid, Amin (Dengan Nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Allah Yang Maha Esa, Amin).
Sumber :
http://en.wikipedia.org/wiki/Simon_the_Tanner
http://en.wikipedia.org/wiki/Pope_Abraham_of_Alexandria
Sabtu, 18 Juni 2011
APA YANG SALAH DENGAN AYAH ?
“Maaf ayah, jalannya macet” jawab Jake. Sebenarnya Jake ketiduran, tapi melihat ayahnya yang kesal, ia terpaksa berbohong daripada menerima kemarahan yang lebih besar lagi.
Saudaraku terkasih,
Seringkali tanggapan kita terhadap kejujuran anak-anak kita malah mengobarkan kemarahan kita pada mereka.
Anak yang mengakui piring pecah karena tergelincir sewaktu dicuci. Uang pembayaran sekolah yang dibelanjakan untuk sepotong kue. Bolos dari sekolah karena menonton film bersama teman-teman.
Reaksi kemarahan orang tua terhadap kejujuran anak-anak inilah yang akhirnya mendorong anak-anak kita untuk berbohong, agar bisa lepas dari kemarahan orang tua. Dan bila suatu ketika, kita sebagai orang tua mengetahui kebohongan itu, maka lagi-lagi reaksi kemarahan dan omelan yang menjemukan menerpa anak-anak.
Sebenarnya, apa yang salah dari kita sebagai orang tua?
Saudaraku terkasih,
Dr. Arun Gandhi cucu dari mendiang Mahatma Gandhi pernah menceritakan satu kisah dalam hidupnya yang sungguh mengesankan sebagai berikut.
“Ketika itu usia saya kira-kira 16 tahun dan saya tinggal bersama kedua orang tua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, Mahatma Gandhi.
Kami tinggal disebuah perkebunan tebu kira-kira 18 mil jauhnya dari kota Durban, Afrika Selatan. Rumah kami jauh dari pelosok desa terpencil sehingga hampir tidak memiliki tetangga. Oleh karena itu saya dan kedua saudara perempuan saya sangat senang sekali bila ada kesempatan untuk bisa pergi kepusat kota, untuk sekedar mengunjungi rekan atau terkadang menonton film dibioskop.
Pada suatu hari kebetulan ayah meminta saya menemani beliau kekota untuk menghadiri suatu konferensi selama seharian penuh. Bukan main girangnya saya saat itu.
Karena ibu tahu kami hendak ke kota maka ibu menitipkan daftar panjang belanjaan yang ia butuhkan, disamping itu ayah juga memberikan beberapa tugas kepada saya, termasuk salah satunya adalah memperbaiki mobil di bengkel.
Pagi itu setelah kami tiba ditempat konferensi, ayah berkata kepada saya: “Arun, jemput ayah disini ya, nanti jam 5 sore….dan kita akan pulang bersama-sama.”
“Baik ayah, saya akan berada disini tepat jam 5 sore,” jawab saya dengan penuh keyakinan.
Setelah itu saya segera meluncur untuk menyelesaikan tugas yang dititipkan ayah dan ibu kepada saya satu persatu. Sampai akhirnya hanya tinggal satu pekerjaan yang tersisa yakni menunggu mobil selesai dari bengkel.
Sambil menunggu mobil diperbaiki tidak ada salahnya saya mengisi waktu senggang dengan pergi ke bioskop menonton sebuah film. Saking asyiknya nonton ternyata saat saya melihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul 17:30, sementara saya janji menjemput ayah pukul 17:00.
Segera saja saya melompat dan buru-buru menuju bengkel untuk mengambil mobil, dan segera menjemput ayah yang sudah hamper satu jam menunggu.
Saat saya tiba sudah hampir pukul 18:00 sore. Dengan gelisah ayah bertanya pada saya, “Arun! Kenapa kamu terlambat menjemput ayah?”
Saat itu saya merasa bersalah dan sangat malu untuk mengakui bahwa saya tadi keasyikan nonton film, sehingga saya terpaksa berbohong dengan mengatakan, “Maaf ayah, tadi mobilnya belum selesai diperbaiki sehingga Arun harus menunggu.”
Ternyata tanpa sepengetahuan saya, ayah sudah terlebih dahulu menelpon bengkel mobil tersebut, sehingga ayah tahu jika saya berbohong.
Lalu ayah tertunduk sedih; sambil menatap saya ayah berkata; “Arun, sepertinya ada sesuatu yang salah dengan ayah dalam mendidik dan membesarkan kamu, sehingga kamu tidak punya keberanian untuk berbicara jujur kepada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, biarlah ayah pulang dengan berjalan kaki; sambil merenung dimana letak kesalahannya.”
Lalu dengan tetap masih berpakaian lengkap ayah mulai berjalan kaki menuju jalan pulang kerumah.
Padahal hari sudah mulai gelap dan saya tidak sampai hati meninggalkan ayah sendirian seperti itu; meskipun ayah telah ditawari naik, beliau tetap berkeras untuk terus berjalan kaki, akhirnya saya mengendarai mobil pelan-pelan dibelakang beliau, dan tak terasa air mata saya menitik melihat penderitaan yang dialami beliau hanya karena kebohongan bodoh yang telah saya lakukan.
Sungguh saya begitu menyesali perbuatan saya tersebut. Sejak saat itu seumur hidup, saya selalu berkata jujur pada siapapun.
Sering sekali saya mengenang kejadian itu dan merasa begitu terkesan; seandainya saja saat itu ayah menghukum saya sebagaimana pada umumnya orang tua menghukum anaknya yang berbuat salah; kemungkinan saya akan menderita atas hukuman itu; dan mungkin hanya sedikit saja menyadari kesalahan saya.
Tapi dengan satu tindakan mengevaluasi diri yang dilakukan ayah; meskipun tanpa kekerasan justru telah memiliki kekuatan yang luar biasa untuk bisa mengubah diri saya sepenuhnya.
Saya selalu mengingat kejadian itu seolah-olah seperti baru terjadi kemarin.
Saudaraku terkasih,
Ayah Dr. Arun Gandhi tersebut sungguh seorang ayah dan guru yang luar biasa dalam mendidik anaknya. Sebuah kisah emas untuk para orang tua dalam mendidik dam membesarkan anak-anak.
Saudaraku terkasih,
Kisah ini begitu menginspirasi saya secara pribadi, untuk selalu mengevaluasi diri jika anak-anak tercinta saya mulai menunjukkan perilaku yang kurang terpuji.
Ya, saya membiasakan diri untuk selalu bertanya, “Apa yang salah dari saya, mengapa anak saya bisa seperti itu…???”
------------------
(Efesus 6:4) Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.
Fathers, do not irritate and provoke your children to anger, but rear them in the training and discipline and the counsel and admonition of the Lord.
(Amsal 29:17) Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.
Correct your son, and he will give you rest; yes, he will give delight to your heart.
LORD JESUS bless you and me, now and forever. Amen.
Disalin dari Majalah Perduki Didik Kuntadi oleh Alfiter Simanullang.