Jumat, 29 Juni 2012

Perkembangan Liturgi Ritus Byzantine

           Perlu diketahui bahwa tradisi ikononostatis bukanlah tradisi awal Gereja dan tujuannya tidak bermakna Theologis ataupun liturgis, hanya sebagai pembatas umat dan altar sehingga tidak berjubel-jubel. Misalnya yang terjadi di Gereja Aghia Sophia pada jaman dahulu, sehingga dibuat ikonostatis yang bentuknya pun tidak tinggi seperti sekarang. Dahulu ikononostatis hanya sebatas pinggang tingginya dan sejak awal tidak diberi ikon, karena memang fungsinya bukan untuk menutupi apa yang terjadi didalam altar. Kemudian perkembangan Ritus Monastik mulailah tertutup seperti sekarang.
            Perkembangan liturgi Gereja Timur banyak mengalami perubahan yang bersifat evolutif. Misalnya, Liturgi Ilahi St. Yohanes Krisostomos yang masih asli dari beliau hanyalah bagian doa-doanya saja, selebihnya merupakan penyesuaian. Liturgi Ilahi St Yohanes Krisostomos awalnya terdapat dua ritus yaitu Ritus Katedral dan Ritus Monastik. Ritus Katedral dimengerti para ahli sebagai yang lebih otentik, tetapi saat perang salib yang keempat, (saat Katedral utama di desekrasi oleh tentara Latin) otomatis Katedral tidak bisa dipakai lagi, sehingga Ritus Monastik yang dipakai karena lebih praktis dan singkat. Ritus inilah yang dipakai sekarang. Ritus Katedral hilang bahkan banyak para ahli mencoba merekontruksi ritus ini tetapi banyak yang tidak berhasil. Dari keseluruhan institusi Orthodox yang saya kenal hanya ada satu biara saja yang "berani" menggunakan Ritus Katedral yaitu biara New Skete di New York Amerika Serikat. Inipun hasil rekontruksi dari Pater Alexander Schemann.  Tetapi inipun adalah hasil eksperimen dan tidak diterapkan dimanapun. Biara New Skete tadinya adalah biara Fransiskan Katolik Byzantine yang menjadi biara Orthodox.
            Tradisi Ruang Maha Kudus pada awalnya tidak ada hubungannya dengan Bait Allah Perjanjian Lama, karena pada awalnya Gereja cukup mendisasosiasikan ibadat Kristen dan Ibadat Yahudi, bisa dilihat dalam hukum kanon contohnya, dimana Paskah Kristen tidak boleh bersamaan dengan Paskah Yahudi. Semua benda didalam Gereja Timur itu tidak diberi arti Theologis pada awalnya, termasuk ikonostasis, karena tujuannya bukan sebagai bagian dari devosional liturgi Gereja tetapi hanya sebagai tujuan praktis, bahkan tabernakel saja bahasa Yunani nya adalah Arthomophorion yang secara sederhana berarti tempat roti! Satu-satunya benda dalam gereja yang dari awal mempunyai makna Theologis hanyalah altar yakni sebagai kuburan Kristus. Kemudian baru benda-benda yang ada diberi makna Theologis.
            Liturgi Ilahi serta pertemuan umat Kristen awal dilakukan di Katakombe, tempat kuburan orang Romawi serta gorong-gorong bawah tanah dibawah kota, sehingga tentunya baunya "khas" ditambah dengan serangga-serangga yang berhubungan dengan bau tersebut, oleh karena itu digunakan semacam kipas yang digunakan untuk mengusir serangga-serangga tersebut dari elemen-elemen perjamuan kudus (roti dan anggur). Dalam Gereja Timur Kipas ini diberi makna Kerubim dan Serafim (exapteriga/rapidia) yang berbetuk bundar yang biasa diletakan dibelakang altar. Demikian juga halnya dengan penggunaan dupa pada awalnya untuk menghilangkan bau tersebut. Ketika Gereja merdeka dari masa penganiayaan, Gereja tidak lupa pada masa lalu yang "khas" ini jadi, beberapa kebiasaan ini dibawa ke permukaan. Bahkan pakaian uskup, imam dan diakon, yang merupakan pakaian liturgis khusus hanya: Omophorion (setara dengan palium di Gereja Latin) untuk uskup, Epitrakhelion (stola imam) dan Orarion (stola diakon). Sedangkan pakaian yang dikenakan selain ini adalah pakaian sipil biasa yang dipakai oleh orang-orang Romawi pada zaman tersebut. Kalau di Gereja timur malah ada yang menarik, Cassock atau jubah hitam yang berlengan lebar yang digunakan oleh imam merupakan pakaian sipil yang biasa dikenakan oleh para pengacara di kota Konstantinopel. Juga seperti kerah klerus atau (Clerical Collar) yang biasa dipakai oleh rohaniwan Gereja Barat saat ini juga hanya merupakan kerah biasa yang digunakan para pria bangsawan dan intelektual di zaman Victoria di Inggris pada abad ke-19.






Rabu, 16 Mei 2012

Harta Yang Bernilai


Di depan gerbang sebuah jembatan di sebuah kota di Eropa, duduklah seorang pengemis buta. Untuk mencari nafkahnya, setiap hari ia duduk di situ sambil memainkan biolanya yang sudah usang. Di depannya terdapat sebuah kaleng kosong. Melalui musik dari biola yang dimaninkan, ia berharap orang-orang yang lalu lalang merasa ibah dan meletakkan sedikit uang dalam kaleng kosong tersebut. Begitulah pengemis buta dan miskin ini melakukan kebiasaannya setiap hari.

Pada suatu hari, seorang berpakaian rapi dan berjubah panjang, datang menghampiri pengemis ini. Orang tersebut meminta si pengemis meminjamkan biolanya yang usang. Tentu saja si pengemis ini dengan sigap menolak untuk meminjamkan biola kepada orang yang baru dikenalnya. Apalagi, ia tidak dapat melihat wajah orang tersebut. Lalu, berkatalah pengemis itu,"Tidak! ini adalah satu-satunya hartaku yang sangat berharga!"

Si pendatang itu tidak putus asa. Ia terus membujuk si pengemis agar mau meminjamkan biolanya tersebut hanya untuk memainkan sebuah lagu. Akhirnya, timbullah rasa percaya pada diri pengemis buta itu, lalu dengan perlahan ia memberikan biola tuanya kepada si pendatang.

Si pendatang mengambil biola tersebut, dan kemudian mulai memainkan sebuah lagu dengan sangat merdu. Suara biola yang begitu bening di tangan si pendatang itu membuat orang yang lalu lalang itu berhenti dan mereka mulai mengelilingi si pendatang dan pengemis tersebut. Karena begitu merdu dan bagus, permainan biola si pendatang tersebut membuat semua orang terpaku. Si pengemis buta juga ternganga tanpa dapat mengucapkan sepatah kata pun. Kaleng yang tadinya kosong, tanpa disadari kini telah penuh dengan uang. Dan, lagu demi lagu telah dimainkan oleh si pendatang tersebut.

Akhirnya, tiba waktunya di pendatang ini harus menyelesaikan permainannya. Sambil mengucap terima kasih, ia mengembalikan biola tersebut kepada si pengemis.

Si pengemis, sambil berurai air mata haru, bertanya kepadanya,"Siapakah Anda orang budiman?" Si pendatang dengan tersenyum ramah dan dengan perlahan menyebut namanya "Paganini".

Semua orang terdiam, karena mereka telah kenal nama tersebut. Ya,seorang maestro biola. Paganini telah banyak memberi berkat pada pengemis itu, yang telah bersedia memberikan harta kesayangan satu-satunya untuk dipergunakan oleh sang maestro.

Demikian dalam kehidupan kita mengiring Tuhan Yesus. Apakah kita rela memberikan seluruh harta kekayaan kita kepada Tuhan Yesus?

Sepatu Yang Tertinggal

Suatu hari seorang bapak tua hendak bepergian menggunakan kereta. Namun karena terburu-buru, ketika naik, sebelah sepatunya tersangkut di pintu dan jatuh ke atas rel. Ia hendak mengambilnya namun kereta terlanjur berjalan dan tak mungkin memintanya untuk berhenti. Sesaat kemudian, ia malah melakukan sesuatu yang tidak lazim. Si bapak tua dengan tenang melepas sepatu sebelahnya, lalu melemparkannya ke luar tak jauh dari sepatu tadi jatuh.

Kebetulan semua kejadian itu diperhatikan oleh seorang pemuda yang duduk di dalam kereta. Karena merasa penasaran, pemuda itu hendak bertanya langsung pada si bapak tua. Begitu bapak tua itu melewati tempat duduknya, si pemuda menyapanya ramah. "Salam, Pak. Saya tadi sempat memperhatikan apa yang Bapak lakukan. Boleh saya bertanya sesuatu?"

"Silakan, Nak. Apa yang ingin kau tanyakan?" ujar si bapak tua.

"Begini, Pak. Tadi Bapak sudah kehilangan satu sepatu, lalu kenapa Bapak juga melemparkan sepatu Bapak yang lain? Dengan begitu, bukankah Bapak sekarang tak punya alas kaki."

Si bapak tua itu melihat pemuda itu sambil tersenyum, lalu menjawab ramah, "Nak, seperti yang sudah kamu lihat tadi, saya sudah kehilangan satu sepatu. Sepatu yang terjatuh tadi mungkin akan ditemukan oleh seseorang, dan bisa saja dia itu orang yang tak berpunya. Tapi, apakah sepatu yang cuma sebelah itu ada gunanya buatnya? Tidak, kan? Sementara saya sendiri, apakah sepatu yang masih melekat di kaki saya tadi juga masih bermanfaat bagi saya? Tidak juga, kan?

"Jika saya melemparkan sepatu sebelahnya lagi, kemungkinan besar orang yang tadi menemukan sepatu saya akan menemukan pasangannya. Dengan begitu, sepatu itu bisa kembali berfungsi sebagaimana mestinya. Karena itulah, saya lemparkan sepatu sebelahnya lagi supaya orang yang menemukannya bisa memanfaatkannya dengan baik."

***

Bapak tua di dalam kisah tadi adalah Mahatma Gandhi. Apa yang dilakukan beliau mengandung sebuah filosofi dasar dalam hidup.



Sepanjang masa hidup, kita hampir pasti akan merasakan suatu kehilangan. Entah itu berupa materi atau orang terkasih kita. Dan bagi kita, kehilangan itu awalnya terlihat tidak adil. Tapi jika kita renungkan lebih jauh lagi, kehilangan itu sejatinya terjadi agar ada perubahan positif dan berarti dalam hidup kita.

Berkeras mempertahankan apa yang kita miliki tidak membuat kita atau dunia di sekitar kita menjadi lebih baik. Tapi memberikan dengan ketulusan hati dapat membantu banyak orang dan membuat mereka bahagia.

Sumber: AW Corner

Sabtu, 21 April 2012

Exapteriga



 Exapteriga adalah kipas yang menggambarkan Serafim/Malaikat yang bersayap enam (Wah 4:8). Dengan demikian ini menegaskan bahwa dalam Liturgy Ilahi, Gereja disatukan dengan Ibadah Para Malaikat di Surga (Wahyu 4 : 7-11, Yes 6:1-10 ) yang jumlahnya "beribu-ribu.......suatu kumpulan yang meriah" ( Ibr 12:22) memuji Allah, sehingga dalam ibadah ini para Malaikat hadir di tengah-tengah kita, dan kita ditengah-tengah mereka. Pada waktu prosesi Injil maupun Persembahan oleh imam, Exapteriga ini dipakai mengiringi, yang memaknai adanya malaikat yang mengiringi.

Senin, 09 April 2012

Troparion Paskah



This translates the Greek:
Χριστὸς ἀνέστη ἐκ νεκρῶν,
θανάτῳ θάνατον πατήσας,
καὶ τοῖς ἐν τοῖς μνήμασι,
ζωὴν χαρισάμενος!
Transliteration:
Christós anésti ek nekrón,
thanáto thánaton patísas,
ké tís en tís mnímasi,
zoín charisámenos!

Church Slavonic
Earlier version (currently only used by the Old Believers)
Хрїстосъ воскресе изъ мертвыхъ,
Смертїю на смерть настѹпи,
И грѡбным животъ дарова!
Transliteration:
Khristos voskrese iz mertvykh
Smertiyu na smert nastupi
I grobnym zhivot darova!

Arabic
المسيح قام من بين الأموات
و وطئ الموت بالموت
و وهب الحياة
للذين في القبور
Transliteration:
Al-Masīh qām min baīni'l-amwāt
Wa wati’ al-mawt bi'l-mawt
Wa wahab al-hayāt
Lil-ladhīna fī'l-qubūr!

Latin
Christus resurrexit a mortuis,
Morte mortem calcavit,
Et entibus in sepulchris
Vitam donavit.

Indonesia
Kristus telah Bangkit dari mati,
dengan mati-Nya Dia telah menginjak-injak maut,
dan bagi mereka yang dikuburan,
hidup dianugrahkan!




Minggu, 25 Maret 2012

TUJUAN BERSAMA


Burung bintik-bintik telah menghilang dari AS. Pada awalnya, diyakini bahwa penebangan pohon-pohon tua merupakan ancaman terbesar yang dihadapi burung hantu bintik-bintik ini. Namun, penelitian menunjukkan bahwa salah satu kerabat burung hantu inilah yang kemungkinan merupakan masalah. Selama 15 tahun terakhir, burung hantu polos telah berimigrasi secara besar-besaran ke barat. Burung hantu polos, yang biasanya hanya hidup secara eksklusif di sebelah timur Mississippi, bersaing untuk mendapatkan makanan yang sama dengan burung hantu bintik-bintik, dan burung hantu polos ini lebih agresif dan lebih cepat beradaptasi.


Sama halnya, konflik terbesar yang kita alami seringkali tidak berasal dari luar gereja, tetapi dari semua orang kristen. Hal ini dialami oleh gereja Korintus. Paulus membutuhkan waktu untuk menegur roh perpecahan yang telah tumbuh di jemaat ini. Roh perpecahan ini mengancam keutuhan gereja. Paulus, dengan dorongan pengembalaan, menguatkan jemaat Korintus untuk dapat sepakat tentang hal-hal yang terpenting dan tidak berselisih karena hal-hal sepeleh. Orang-orang berselisih karena mereka mengelompokkan diri dengan para pemimpin yang Kristen yang berbeda--Paulus, Apolos, Petrus, dan bahkan Kristus. Perpecahan ini terjadi karena mereka lebih menghargai pemimpin (Pendeta) favorit mereka daripada kesatuan di dalam Kristus.


Paulus mengatakan bahwa hal terpenting yang seharusnya mempersatukan gereja adalah memberitakan kabar baik. Hal ini seharusnya juga menjadi tujuan kita bersama. Mari kita berdoa untuk gereja kita, agar tidak terjadi perpecahan, tetapi selalu punya tujuan dan visi yang sama.


Firman Tuhan.
Tetapi aku menasehatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu.
(1 Korintus 1:10).

Hari Raya Kabar Sukacita

25 Maret : Maria menerima Kabar gembira dari Malaikat Gabriel
Salam engkau yang penuh rahmat, Tuhan sertamu, terpujilah engkau diantara wanita. Demikianlah salam Malaikat Gabriel kepada Maria. Selanjutnya Malaikat Allah itu berkata: Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki- laki dan hendaklah engkau menamai Dia, Yesus.

Gereja merayakan peristiwa ini secara khusus mengingat arti dan maknanya bagi keselamatan manusia. Boleh dikatakan peristiwa Sabda menjadi daging berawal pada saat Maria menyatakan kesediaannya dan persetujuannya kepada Malaikat Gabriel, pembawa khabar gembira itu, dan semenjak itu pula Maria menjadi Bunda Allah. Satu hal yang harus kita camkan dalam hati ialah hormat Allah pada Maria sebagaimana terlihat dalam permintaan kesediaan Maria untuk menerima Sabda Allah dalam rahimnya. Disini Allah tidak memaksa Maria, tetapi meminta kesediaannya. Maria sendiri menyadari bahwa Tuhan memilih dia karena menganggap dia layak untuk menerima khabar gembira itu. Tetapi sebagai manusia, Maria masih tampak ragu- ragu akan makna khabar itu. Oleh karena itu, ia menanyakan lebih lanjut keterangan dari malaikat Allah itu: Bagaimana hal ini mungkin terjadi ? Dan ketika ia sudah merasa pasti akan makna khabar gembira malaikat itu, Maria berkata: Aku ini hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataan Mu.

Semoga hari raya Kabar Sukacita ini menumbuhkan dalam diri kita semangat ketaatan ada Allah dan kesediaan berkerja sama dengan Allah dalam karya penyelamatan Nya.

Sumber : http://www.imankatolik.or.id/kalender/25Mar.html