Senin, 02 Juli 2012

KISAH SI AYAM & SI BABI

Alkisah, ada dua binatang yang berteman akrab sejak kecil, yaitu si ayam dan si babi. mereka selalu berjalan berdua kemanapun mereka pergi. Pada suatu hari, ketika mereka berjalan melewati hutan belantara yang jauh dari keramaian kota , mereka menemukan seorang laki-laki yang hampir mati.

si ayam berkata: "eh, bie! liat tuh! kayaknya ada orang sedang berbaring didepan!"

si babi : "iya, yam! gue juga liat. kayaknya dia sedang sekarat. yuk kita deketin."

Mereka melihat dari dekat, dan laki-laki itu dengan lemah berkata : "Tolong aku, aku lapar dan tidak punya makanan"

Lalu si ayam berkata kepada babi : "Eh, kasihan deh. bie, yuk kita tolong dia."

sahut si babi : "tapi gimana yam ? kita kan nggak bawa bekal apa-apa ?"

si ayam berkata : "ya sudah, apa yang ada pada diri kita saja kita olah menjadi makanan, setuju?"

babi mengangguk : "baiklah, kalau itu bisa menyelamatkan nyawa orang itu, saya bersedia."

Singkat cerita, mereka masing-masing memberikan bagian diri mereka, mengolahnya menjadi makanan dan memberikan kepada laki-laki tersebut. ia sangat berterimakasih, kesehatannya telah pulih dan ia melanjutkan perjalanannya. si ayam dan si babi pun melanjutkan perjalanannya berdua.

Si ayam berkata : "Senang yach, rasanya, kita bisa menjadi berguna untuk orang lain...."

Si babi membalas : "iya sih, aku juga senang. tapi kamu jalannya jangan cepat-cepat yam, aku tadi memberikan satu kakiku untuk menjadi makanannya, kamu sih enak, bisa bertelur...."


Cerita diatas menggambarkan 2 tipe dalam memberi, yaitu memberi dalam kelimpahan dan memberi dalam kekurangan. sifat ini dapat kita refleksikan dalam diri kita, yaitu ketika kita memberikan persembahan dalam gereja, boleh ditanyakan dalam diri kita sendiri: "apakah saya merasa sudah memberikan yang terbaik untuk Tuhan?" biarlah hati nurani masing-masing yang menjawabnya.

Saya jadi ingat, ketika Tuhan Yesus memperhatikan orang-orang yang memberi persembahan. Orang-orang kaya memberi persembahan dari kelimpahannya, tetapi seorang janda miskin memberi dari kekurangannya, bahkan seluruh nafkahnya. (Lukas 21:4). Orang yang memberikan dari kelimpahannya memberi sedikit bagian untuk Tuhan dan sisa bagian yang jauh lebih banyak untuk dirinya sendiri, sedangkan si janda miskin memberikan seluruh bagiannya untuk Tuhan dan tidak ada bagian untuk dirinya sendiri. Itulah sebuah kenyataan, bahwa setiap orang memiliki kasih yang berbeda untuk Tuhan kita.

Kehendak Tuhan adalah supaya kita mengasihiNya dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan kita.

Tuhan memang tidak butuh harta kita. Ia adalah pemilik surga dan bumi. Jika Ia mau, Ia bisa mengambil semua harta kita. Tuhan menginginkan hati kita, supaya kita berserah kepadaNya. Namun hal ini tidak akan terjadi sepenuhnya sebelum hati kita masih menyayangi harta duniawi. Alkitab berkata : "Dimana hartamu berada, disitu pula hatimu berada" (Mat 6:21).

KEKUATIRAN YANG BODOH

Janganlah kamu kuatir akan hari esok,karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri.(Matius 6:34)


Ralp Easter telah berulang kali mengemudi dari Calgary, sebuah kota di kaki bukit Alberta, menuju Banff, sebuah daratan tinggi di Canadian Rockies. Ia pernah bercerita bagaimana perjalanan pertamanya ke sana memberi kesan yang tak terlupakan baginya. Saat jalanan yang ia lalui membelok ke barat dari Calgary dan melewati deretan perbukitan, tiba-tiba di depannya tampak barisan puncak bukit bersalju yang seolah-olah hendak memotong dan mengakhiri jalan. Pada saat itu ia merasa ragu bagaimana caranya melewati rintangan yang tampaknya sukar di lalui itu. Akan tetapi ia tetap melanjutkan perjalanan dan mengemudi dengan mantap.

Akhirnya, ketika mencapai ujung jalan yang kelihatannya akan berakhit itu, ternyata ia mendapati sebuah kelokan yang tajam hingga seketika jalanan kembali terbentang seperti sebelumnya. Selanjutnya kelokan-kelokan membawanya berjalan terus dan naik sampai ke sisi lain dari bukit.

Manakala kita mengarungi kehidupan, berbagai rintangan sering tampak menghadang, sehingga kita takut akan sesuatu yang buruk akan terjadi.Keadaan sakit, kebangkrutan,keluarga, kehilangan pekerjaan seakan menghalangi kita untuk mencapai tujuan. Namun jika kita tetap beriman, Allah akan membuka jalan baru di depan kita.Banyak hal yang kita kuatirkan ternyata tidak benar-benar terjadi. Kalaupun ada masalah yang datang, Allah akan senantiasa hadir dan membukakan jalan bagi kita. Kita dapat menghindari kekuatiran yang bodoh dengan mempercayakan masa depan kita kepada-Nya.***

LETTER FROM JESUS (ENGLISH AND INDONESIAN)

(ENGLISH)

Dear Friend,

I just had to write to tell you how much I love you and care for you.

Yesterday, I saw you walking and laughing with your friends; I hoped that soon you'd want Me to walk along with you, too. So, I painted you a sunset to close your day and whispered a cool breeze to refresh you. I waited; you never called. I just kept on loving you.

As I watched you fall asleep last night, I wanted so much to touch you. I spilled moonlight onto your face trickling down your cheeks as so many tears have. You didn't even think of me; I wanted so much to comfort you.

The next day I exploded a brilliant sunrise into a glorious morning for you. But you woke up late and rushed off to work-you didn't evennotice.
My sky became cloudy and Mytears were the rain.
I love you! Oh, if you'd only listen. I really love you! I try to say it in the quiet of the green meadow and in the blue sky. The wind whispers My love throughout the treetops and spills it into the vibrant colors of the flowers.

I shout it to you in the thunder of the great waterfalls and composed love songs for birds to sing for you. I warm you with the clothing of My sunshine and perfume the air with nature's sweet scent.
My love for you is deeper than the ocean and greaterthan any need in your heart. If you'd only realize how I care. I died just for you. My Dad sends His love. I want you to meet Him. He cares, too. Fathers are just that way.

So please call Me soon. No matter how long it takes, I'll wait because I love you.

Your Friend,
Jesus

******************************************************

(INDONESIA)

Sahabat terkasih,

Aku hanya harus menulis untuk mengatakan betapa Aku mencintaimu dan peduli padamu.

Kemarin, Aku melihatmu berjalan dan tertawa dengan teman-temanmu, Aku berharap kau segera ingin Aku untuk berjalan bersama denganmu juga. Jadi, Aku melukiskanmu matahari terbenam untuk menutupi harimu dan berbisik angin sejuk untuk menyegarkanmu. Aku menunggu, kau tidak pernah memanggil. Aku hanya terus mencintaimu.

Saat Aku melihat kau tertidur semalam, Aku begitu ingin menyentuhmu. Aku menumpahkan cahaya bulan ke wajahmu sebagai air mata yang menetes begitu banyak dipipimu. Kau bahkan tidak memikirkanKu, Aku begitu ingin membuatmu nyaman.

Keesokan harinya Aku meledakkan matahari terbit cemerlang menjadi pagi mulia untukmu. Tapi kau bangun terlambat dan bergegas berangkat kerja-kau tidak meninggalkan pesan.
langitKu menjadi berawan dan airmataKu adalah hujan.
Aku mencintaimu! Oh, kalau kau hanya mendengarkan. Aku benar-benar mencintaimu! Aku mencoba mengatakan dalam tenangnya padang rumput hijau dan langit biru. Angin berbisik CintaKu diseluruh puncak pepohonan dan tumpahan ke dalam warna-warna cerah bunga-bunga.

Aku berteriak kepadamu dalam gemuruh air terjun besar dan lagu-lagu cinta yang digarap burung bernyanyi untukmu. Aku menghangatkanmu dengan pakaian sinar matahariKu dan wewangian udara dengan aroma manisnya alam.

Kasih-Ku padamu lebih dalam dari laut dan lebih besar dari setiap kebutuhan dalam hatimu. Jika kau hanya menyadari betapa Aku peduli. Aku mati hanya untukmu. BapaKu mengirimkan kasih-Nya. Aku ingin kau menemui-Nya. Dia juga peduli. Hanya itu kehendakNya.

Jadi tolong hubungilah Aku segera. Tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan, Aku akan menunggu karena Aku mencintaimu.

Sahabatmu,
Yesus

JEJAK KAKI

Suatu malam seorang bermimpi. Dia mimpi berjalan bersama Tuhan di sepanjang tepian pantai. Di ujung langit sana tergambar peristiwa-peristiwa dari kehidupannya. Di setiap kejadian ia memperhatikan ada dua pasang jejak kaki di permukaan pasir, satu punyanya dan lainnya jejak kaki Tuhan.

Pada penayangan dari peristiwa itu di akhir hidupnya, dia kembali melihat jejak kaki di permukaan pasir itu. Dia memperhatikan bahwa banyak kali di dalam kehidupannya hanya ada satu jejak kaki. Dia memperhatikan bahwa saat-saat itu adalah saat-saat genting dan penuh kesedihan. Hal itu sungguh membingungkannya, dan ia bertanya kepada Tuhan tentang hal ini. "Tuhan, Engkau berkata bahwa sekali aku memutuskan untuk mengikutMu, Engkau berjanji akan berjalan selamanya bersamaku. Tetapi aku juga memperhatikan, pada masa aku mengalami kesukaran dalam hidupku, hanya ada satu pasang jejak kaki, aku sungguh tidak mengerti mengapa di saat-saat aku membutuhkanMu malah Engkau meninggalkanku."

Tuhan menjawab: "AnakKu yang Kukasihi, Aku mengasihimu dan tidak akan pernah meninggalkanmu. Pada saat -saat pencobaan dan penderitaanmu, saat di mana engkau hanya melihat ada satu pasang jejak kaki, itulah saat di mana Aku menggendong engkau."

Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu.(Yesaya 46:4a)

Praise God, coz He is good all the time!!

PERANGKAP TIKUS

Sepasang suami dan istri petani pulang kerumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikur memperhatikan dengan seksama sambil menggumam "hmmm...makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??"

Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak " Ada Perangkap Tikus di rumah....di rumah sekarang ada
perangkap tikus...."

Ia mendatangi ayam dan berteriak " ada perangkap tikus"

Sang Ayam berkata " Tuan Tikus..., Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku"

Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak.

Sang Kambing pun berkata " Aku turut ber simpati...tapi tidak ada yang bisa aku lakukan"

Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama. " Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali"

Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular. Sng ular berkata " Ahhh...Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku"

Akhirnya Sang Tikus kembali kerumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri.

Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa. Buntut ular yang
terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah. Walaupun sang Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan.

Sang suami harus membawa istrinya kerumah sakit dan kemudian istrinya sudah boleh pulang namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam.

Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya. (kita semua tau, sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam) Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya.

Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya.

Masih, istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia.

Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang Petani harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat.

Dari kejauhan...Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.

SALIBKU

Dalam perjalanan hidupku suatu kali aku mengeluh kepada Tuhan Yesus. "Yesus..kok berat banget sih salib yang harus aku panggul selama mengikuti Engkau.."

Lalu Tuhan pun menjawabku dengan lembut. "Kalau begitu, ayo kita jalan-jalan. Aku akan mengajakmu untuk memilih salib mana yang ingin kau pikul."

Lalu Tuhanpun mengajakku ke suatu ruangan yang penuh dengan salib-salib kayu dengan berbagai ukuran. Tuhan berkata "Letakkan salibmu di pojok ruangan itu dan pilihlah salib yang kauinginkan."

Akupun berjalan mengitari ruangan itu dan melihat semua salib yang ada. Pandanganku kemudian terpaku pada salib yang paling besar di ruangan itu. "Itu salib siapa, Tuhan ?" tanyaku. " Itu adalah salibKu yang menjadikan penebusan bagi segala dosa manusia. Apa itu yang akan kaupilih?" Wah, tentu saja tidak Tuhan. mana kuat aku membawanya.

Aku pilih yang dipojok ruangan itu saja Tuhan. Itu salib yang terkecil yang ada di ruangan ini "jawabku.Tuhan Yesus pun tersenyum dan berkata "Bukankah itu salibmu yang tadi kau letakkan di pojok ruangan ini? Ketahuilah anakku,salib yang kau pikul tidak akan memberikan pencobaan lebih dari kemampuanmu karena Aku sangat mencintaimu. Syukurilah salibmu dan ikutlah Aku."

Maka aku pun pulang, dengan sukacita