Saat Dwi berniat memperkenalkan Bethania kepada kedua orang tuanya, dengan tegas ibu Dwi menolak hubungan cinta yang telah terjalin di antara mereka. Di mata ibunda Dwi, Bethania bukanlah calon yang pantas untuk Dwi, anaknya. Dwi yang saat itu sedang mengikuti pendidikan di sekolah penerbangan akan menjadi seorang pilot dengan masa depan yang cemerlang. Sedangkan Bethania sendiri bukan berasal dari keluarga yang terhormat. Apalagi mereka berbeda suku. Namun penolakan keluarga Dwi tidak membuat Bethania mundur. Ia tetap setia kepada Dwi dan berusaha mempertahankan hubungan mereka dengan sebaik-baiknya.
Dwi sendiri, meskipun ditentang oleh keluarganya, tetap mempertahankan hubungan cintanya dengan Bethania. Dalam kesehariannya, pikiran Dwi dipenuhi dengan impiannya untuk menjadi seorang pilot. Dwi bahkan berjanji kepada Bethania akan mengajaknya terbang tinggi ke angkasa suatu hari nanti.
Demi menepati janjinya, Dwi terus mengasah kemampuannya. Namun di pagi itu, tanggal 28 Januari 1997, saat Dwi seperti biasa menjalani latihan penerbangannya, alam berkata lain. Tiba-tiba, akibat kabut yang sangat tebal, pesawat yang ditumpangi Dwi menabrak Gunung Gede. Seluruh badan pesawat itu hancur dan terbakar. Tim evakuasi baru tiba di lokasi kejadian pukul 2 siang. Tubuh Dwi ditemukan dalam kondisi yang sangat mengenaskan.
Pagi itu, sebelum terbang, Dwi mengabari Bethania mengenai rencana penerbangannya hari itu dan berjanji akan segera memberi kabar kepada Bethania kalau ia sudah mendarat. Namun sampai jam 10 pagi, kabar dari Dwi tak kunjung datang. Hati Bethania menjadi tidak tenang karena seharusnya Dwi tiba di tujuan sejak jam 8 pagi tadi. Telpon pun akhirnya berdering. Dan berita kecelakaan itu pun sampai di telinga Bethania.
Keluarga Dwi sama sekali tidak mau memberikan informasi kepada Bethania mengenai keadaan Dwi. Tak sanggup menahan rasa kuatirnya, empat hari setelah kecelakaan Bethania mendatangi rumah sakit tempat Dwi dirawat. Bukannya informasi yang di dapatnya, melainkan penolakan demi penolakan dari keluarga Dwi harus dihadapi Bethania. Makian demi makian dilontarkan kepada Bethania karena ia dianggap hanya membawa sial bagi kehidupan Dwi dan Bethania tidak diijinkan sama sekali untuk mendekati Dwi. Tidak cukup sampai di situ, Bethania pun sempat diludahi oleh salah satu anggota keluarga Dwi.
Dalam kesedihan yang mendalam, Bethania pergi ke kapel rumah sakit dan berdoa. Bethania berdoa memohon supaya Tuhan tidak mengambil nyawa Dwi. Bahkan Bethania bernazar, kalau memang Tuhan mengijinkan Dwi hidup, Bethania berjanji di hadapan Tuhan, apapun yang akan terjadi, Bethania akan setia mendampingi Dwi sampai selama-lamanya. Begitu Bethania selesai mengucapkan janji itu, di saat yang bersamaan Dwi mulai siuman. Dan pada saat Dwi siuman, tanpa Dwi sadari ia memanggil nama Bethania, kekasihnya. Namun Bethania tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di depannya.
Untuk kesekian kalinya cinta Bethania dan Dwi diterpa cobaan. Namun cobaan yang terbesar baru akan terjadi. Keluarga Dwi pun pada akhirnya mengijinkan Bethania untuk bertemu dengan Dwi. Namun Bethania tidak dapat mengenali wajah Dwi lagi. Luka bakar yang diderita Dwi akibat kecelakaan itu sangat parah. Dwi sendiri frustasi saat mengetahui kondisi fisiknya yang sudah tidak berbentuk lagi. Secara fisik kepalanya botak, jari-jari tangannya cacat dan dari pinggang ke atas tubuh Dwi sudah cacat.
Secara psikologis, Dwi merasakan penderitaan yang besar karena tiga bulan lagi ia seharusnya sudah dapat diwisuda dari sekolah penerbangan tersebut. Di rumah sakit, Dwi dikenal sebagai pasien yang paling galak. Dwi sering memaki-maki para suster dan dokter sebagai konpensasi dari kekecewaannya terhadap kondisi fisiknya yang cacat. Hatinya sangat hancur dengan kejadian ini. Cita-citanya dan harapannya untuk berprofesi sebagai pilot pupus sudah.
Dwi sempat mau mengakhiri hidupnya karena tidak dapat menerima kenyataan yang menyakitkan ini. Ada banyak pertanyaan-pertanyaan dalam hatinya mengapa semua ini harus menimpa dirinya. Dwi menjadi orang yang minder karena semua orang memandangnya dengan pandangan yang aneh. Namun Bethania tetap menguatkan Dwi dan berjanji untuk senantiasa mendampinginya. Cinta Bethania lah yang menjadi kekuatan bagi Dwi. Harapan Dwi mulai tumbuh setelah Dwi menjalani 15 kali operasi rekonstruksi. Namun sebuah kabar merusak segalanya.
Perawatan Dwi membutuhkan biaya yang sangat besar. Dan pemerintah menghentikan bantuan biaya yang selama ini telah diberikan untuk perawatan Dwi. Bethania sendiri mendengar selentingan kabar bahwa orang tua Dwi akan mengasingkan Dwi, mengisolasinya ke daerah terpencil. Bethania sangat tidak rela Dwi diperlakukan seperti itu.
Dengan tekad bulat dan penuh keberanian, Bethania mendatangi orang tuanya dan menyampaikan maksudnya untuk menikah dengan Dwi. Tentu saja orang tua Bethania menolak dengan keras keinginan Bethania ini. Tapi Bethania tetap bersikeras ingin menikahi Dwi karena Bethania tidak rela kalau sampai Dwi dibawa ke daerah pedalaman oleh keluarganya. Pada akhirnya, Bethania memberanikan diri mendatangi orang tua Dwi dan pada saaat itulah, Bethania melamar Dwi.
Akhirnya, setelah melalui 25 kali operasi rekonstruksi dan dirawat di rumah sakit selama 1,5 tahun, tanggal 17 Juli 1999, Bethania dan Dwi dipersatukan dalam pernikahan kudus.
“Rasa percaya diri yang mulai muncul itu tidak seketika. Kepercayaan diri itu mulai bertumbuh empat tahun setelah kecelakaan. Itu bukan suatu hal yang singkat. Saya yakin dan percaya bahwa Ibeth (panggilan Bethania), yang sekarang sudah menjadi istri saya, dia adalah seorang penolong yang Tuhan hadirkan di dalam hidup saya. Mungkin kalau tidak ada Ibeth yang Tuhan kirimkan di dalam hidup saya, saya bisa jadi orang gila saat ini atau mungkin saya sudah bunuh diri atau mungkin juga saya akan menjadi orang yang memiliki sifat dan karakter tidak seperti sekarang,” aku Dwi dalam kesaksiannya mengenai Bethania, istrinya.
“Dulu saya bercita-cita untuk menjadi seorang pilot yang membawa penumpang dari satu kota ke kota lainnya. Tetapi lewat proses kecelakaan, melalui apa yang saya alami ternyata Tuhan membuat saya menjadi seorang pilot, bukan pilot dunia, tetapi pilotnya Tuhan, karena pada saat saya mengambil bagian dalam pelayanan banyak jiwa dikuatkan, banyak jiwa yang telah jauh dari Tuhan bisa kembali kepada Tuhan. Dari gelap kepada terang, dari neraka menuju ke Surga,” ujar Dwi menutup kesaksiannya.
Kini Bethania dan Dwi melayani orang yang sedang mengalami keterpurukan seperti Dwi. Lewat kisah mereka, mereka mau membuktikan bahwa hanya kasih Yesus saja yang sanggup mempersatukan mereka. Sebuah kasih tanpa syarat. (Kisah ini ditayangkan 9 April 2009 dalam acara Solusi Life i O’Channel).
(^__^).........GBU all
Rabu, 13 Juli 2011
CINTA TULUS
Suatu pagi yang sunyi, di suatu desa kecil di Korea, ada sebuah bangunan kayu mungil yang atapnya ditutupi oleh seng-seng. Itu adalah rumah yatim piatu dimana banyak anak tinggal akibat orang tua mereka meninggal dalam perang.
Tiba-tiba kesunyian pagi itu dipecahkan oleh bunyi mortir yang jatuh diatas rumah yatim piatu itu. Atapnya hancur oleh ledakan, dan kepingan-kepingan seng mental keseluruh ruangan sehingga membuat banyak anak yatim piatu terluka.
Ada seorang gadis kecil terluka dibagian kaki oleh kepingan tersebut, dan kakinya hampir putus. Ia terbaring diatas puing-puing ketika ditemukan. Pertolongan pertama segera dilakukan kepada anak-anak yatim piatu itu dan seseorang segera dikirim ke rumah sakit terdekat untuk meminta pertolongan.
Ketika para dokter dan perawat tiba, mereka mulai memeriksa anak-anak yang terluka. Ketika dokter melihat gadis kecil itu, ia menyadari bahwa pertolongan yang paling dibutuhkan oleh gadis kecil itu secepatnya adalah darah. Ia segera melihat arsip yatim piatu untuk mengetahui apakah ada anak yang memiliki golongan darah yang sama.
Perawat yang bisa berbicara bahasa Korea mulai memanggil nama-nama anak yang memiliki golongan darah yang sama dengan gadis kecil itu. Beberapa menit kemudian, setelah terkumpul anak-anak yang memiliki golongan darah yang sama, dokter berbicara kepada kelompok anak-anak itu dan perawat menerjemahkan, “Apakah ada diantara kalian yang bersedia memberikan darahnya untuk gadis kecil ini?”
Anak-anak itu tampak ketakutan, tetapi tidak ada yang berbicara. Sekali lagi dokter itu memohon, “Tolong, apakah ada diantara kalian yang bersedia memberikan darahnya untuk teman kalian? Karena jika tidak Ia akan meninggal!”
Akhirnya ada seorang bocah laki-laki di belakan mengangkat tangannya dan perawat segera membaringkannya di ranjang untuk mempersiapkan proses transfusi darah.
Ketika perawat mengangkat lengan bocah untuk membersihkannya, bocah itu mulai gelisah.
“Tenang saja, “ kata perawat itu. “Tidak akan sakit kok.”
Lalu dokter mulai memasukkan jarum, ia mulai menangis.
“Apakah sakit?” tanya dokter itu.
Tetapi bocah itu malah menangis lebih kencang. “Aku telah menyakiti bocah ini!” kata dokter itu didalam hati dan mencoba meringankan sakit bocah itu dengan menenangkannya, tetapi tidak ada gunanya.
Setelah beberapa lama, proses transfusi telah selesai dan dokter itu minta perawat untuk bertanya kepada bocah itu. “Apakah sakit?”
Bocah itu menjawab, “Tidak, tidak sakit.”
Lalu kenapa kamu menangis?” tanya dokter itu.
“Karena aku sangat takut untuk meninggal ,” kawab bocah itu.
Dokter itu tercengang, “Kenapa kamu berpikir bahwa kamu akan meninggal?”
Dengan air mata dipipinya, bocah itu menjawab, “Karena aku kira untuk menyelamatkan dia, aku harus menyerahkan seluruh darahku…”
Dokter itu tidak bisa berkata apa-apa, kemudian dia bertanya lagi, “Lalu jika kamu pikir kamu akan meninggal, kenapa kamu bersedia untuk memberikan darahmu?”
Sambil terisak ia berkata. “Karena dia adalah sahabatku, dan aku mengasihinya….”
Anak itu tahu bahwa karena kasihnya ia harus berkorban, namun ia tetap rela mati demi menyelamatkan seorang sahabatnya.
Saudaraku terkasih,
Kita ini manusia yang penuh dosa, namun karena kasih dan cinta Tuhan kepada kita, dan kita ini sangat berarti dimata-Nya, maka kita beroleh keselamatan dengan penebusanNya di kayu salib.
Dia ambil alih segala hukuman atas semua kejahatan dan dosa2 kita, sehingga kita layak untuk memperoleh kemuliaan dan kebahagiaan, memperoleh kehidupan yang kekal yang disana tak ada kertak gigi dan jerit tangis, tinggal bahagia bersamaNya di Sorga.
(Yohanes 3:16) Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
For God so greatly loved and dearly prized the world that He gave up His only begotten Son, so that whoever believes in Him shall not perish but have eternal life.
-----------------------
LORD JESUS bless you and me, now and forever. Amen.
source: http://artikelkristen.com/cinta-tulus-seorang-anak-kecil.htm
Tiba-tiba kesunyian pagi itu dipecahkan oleh bunyi mortir yang jatuh diatas rumah yatim piatu itu. Atapnya hancur oleh ledakan, dan kepingan-kepingan seng mental keseluruh ruangan sehingga membuat banyak anak yatim piatu terluka.
Ada seorang gadis kecil terluka dibagian kaki oleh kepingan tersebut, dan kakinya hampir putus. Ia terbaring diatas puing-puing ketika ditemukan. Pertolongan pertama segera dilakukan kepada anak-anak yatim piatu itu dan seseorang segera dikirim ke rumah sakit terdekat untuk meminta pertolongan.
Ketika para dokter dan perawat tiba, mereka mulai memeriksa anak-anak yang terluka. Ketika dokter melihat gadis kecil itu, ia menyadari bahwa pertolongan yang paling dibutuhkan oleh gadis kecil itu secepatnya adalah darah. Ia segera melihat arsip yatim piatu untuk mengetahui apakah ada anak yang memiliki golongan darah yang sama.
Perawat yang bisa berbicara bahasa Korea mulai memanggil nama-nama anak yang memiliki golongan darah yang sama dengan gadis kecil itu. Beberapa menit kemudian, setelah terkumpul anak-anak yang memiliki golongan darah yang sama, dokter berbicara kepada kelompok anak-anak itu dan perawat menerjemahkan, “Apakah ada diantara kalian yang bersedia memberikan darahnya untuk gadis kecil ini?”
Anak-anak itu tampak ketakutan, tetapi tidak ada yang berbicara. Sekali lagi dokter itu memohon, “Tolong, apakah ada diantara kalian yang bersedia memberikan darahnya untuk teman kalian? Karena jika tidak Ia akan meninggal!”
Akhirnya ada seorang bocah laki-laki di belakan mengangkat tangannya dan perawat segera membaringkannya di ranjang untuk mempersiapkan proses transfusi darah.
Ketika perawat mengangkat lengan bocah untuk membersihkannya, bocah itu mulai gelisah.
“Tenang saja, “ kata perawat itu. “Tidak akan sakit kok.”
Lalu dokter mulai memasukkan jarum, ia mulai menangis.
“Apakah sakit?” tanya dokter itu.
Tetapi bocah itu malah menangis lebih kencang. “Aku telah menyakiti bocah ini!” kata dokter itu didalam hati dan mencoba meringankan sakit bocah itu dengan menenangkannya, tetapi tidak ada gunanya.
Setelah beberapa lama, proses transfusi telah selesai dan dokter itu minta perawat untuk bertanya kepada bocah itu. “Apakah sakit?”
Bocah itu menjawab, “Tidak, tidak sakit.”
Lalu kenapa kamu menangis?” tanya dokter itu.
“Karena aku sangat takut untuk meninggal ,” kawab bocah itu.
Dokter itu tercengang, “Kenapa kamu berpikir bahwa kamu akan meninggal?”
Dengan air mata dipipinya, bocah itu menjawab, “Karena aku kira untuk menyelamatkan dia, aku harus menyerahkan seluruh darahku…”
Dokter itu tidak bisa berkata apa-apa, kemudian dia bertanya lagi, “Lalu jika kamu pikir kamu akan meninggal, kenapa kamu bersedia untuk memberikan darahmu?”
Sambil terisak ia berkata. “Karena dia adalah sahabatku, dan aku mengasihinya….”
Anak itu tahu bahwa karena kasihnya ia harus berkorban, namun ia tetap rela mati demi menyelamatkan seorang sahabatnya.
Saudaraku terkasih,
Kita ini manusia yang penuh dosa, namun karena kasih dan cinta Tuhan kepada kita, dan kita ini sangat berarti dimata-Nya, maka kita beroleh keselamatan dengan penebusanNya di kayu salib.
Dia ambil alih segala hukuman atas semua kejahatan dan dosa2 kita, sehingga kita layak untuk memperoleh kemuliaan dan kebahagiaan, memperoleh kehidupan yang kekal yang disana tak ada kertak gigi dan jerit tangis, tinggal bahagia bersamaNya di Sorga.
(Yohanes 3:16) Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
For God so greatly loved and dearly prized the world that He gave up His only begotten Son, so that whoever believes in Him shall not perish but have eternal life.
-----------------------
LORD JESUS bless you and me, now and forever. Amen.
source: http://artikelkristen.com/cinta-tulus-seorang-anak-kecil.htm
KASIH DIHATIMU (Bagian 2)
Di pojok ruangan, Mikhail yang sedari tadi duduk diam, tiba-tiba tersenyum. Mukanya bercahaya, persis seperti dulu ketika ia pertama kalinya tersenyum. Sebenarnya Simon enggan berurusan dengan orang ini. Ia baru saja hendak menolak pesanan itu ketika Mikhail memberi isyarat agar ia menerima pesanan itu.
Simon berkata, "Mikhail, kau sajalah yang mengerjakan sepatu itu. Aku sudah mulai tua. Mataku agak kurang awas untuk mengerjakan sepatu semahal ini. Hati-hati, ya. Aku tak mau salah satu atau malah kita berdua masuk penjara."
Ketika Mikhail selesai mengerjakan sepatu itu, bukan main terkejutnya Simon. "Astaga, Mikhail, kenapa kau buat sepatu anak-anak? Bukankah yang memesan itu orangnya tinggi besar? Celaka, kita bisa masuk penjara karena...."
Belum selesai Simon berkata, datang si pelayan orang kaya. "Majikanku sudah meninggal. Pesanan dibatalkan. Jika masih ada sisa kulit, istri majikanku minta dibuatkan sepatu anak-anak saja".
"Ini, sepatu anak-anak sudah kubuatkan. Silakan bayar ongkosnya pada Simon", Mikhail menyerahkan sepatu buatannya pada pelayan itu. Pelayan itu terkejut, tapi ia diam saja meskipun heran darimana Mikhail tahu tentang pesanan sepatu anak-anak itu.
Tahun demi tahun berlalu, Mikhail tetap tidak pernah tersenyum kecuali pada dua kali peristiwa tadi. Meskipun penasaran, Simon dan Matrena tak pernah berani menyinggung-nyinggung soal asal usul Mikhail karena takut ia akan meninggalkan mereka.
Suatu hari datanglah seorang ibu dengan dua orang anak kembar yang salah satu kakinya pincang! Ia minta dibuatkan sepatu untuk kedua anak itu. Simon heran sebab Mikhail tampak sangat gelisah. Mukanya muram, padahal biasanya tidak pernah begitu.
Saat mereka hendak pulang, Matrena bertanya pada ibu itu, "Mengapa salah satu dari si kembar ini kakinya pincang?"
Ibu itu menjelaskan, "Sebenarnya mereka bukan anak kandungku. Mereka kupungut ketika ibunya meninggal sewaktu melahirkan mereka. Padahal belum lama ayah mereka juga meninggal. Kasihan, semalaman ibu mereka yang sudah meninggal itu tergeletak dan menindih salah satu kaki anak ini Itu sebabnya ia pincang. Aku sendiri tak punya anak, jadi kurawat mereka seperti anakku sendiri."
"Tuhan Maha Baik, manusia dapat hidup tanpa ayah ibunya, tapi tentu saja manusia takkan dapat hidup tanpa Tuhannya", kata Matrena.
Mendengar itu, Mikhail kembali berseri-seri dan tersenyum untuk ketiga kalinya. Kali ini bukan wajahnya saja yang bercahaya, tapi seluruh tubuhnya.
Sesudah tamu-tamu tersebut pulang, ia membungkuk di depan Simon dan Matrena sambil berkata, "Maafkan semua kesalahan yang pernah kuperbuat, apalagi telah membuat gelisah dengan tidak mau menceritakan asal usulku. Aku dihukum Tuhan, tapi hari ini Tuhan telah mengampuni aku. Sekarang aku mohon pamit."Simon dan Matrena tentu saja heran dan terkejut, "Nanti dulu Mikhail,tolong jelaskan pada kami siapakah sebenarnya kau ini?"
Mikhail menjawab sambil terus tersenyum, "Sebenarnya aku adalah adalah satu malaikat Tuhan. Bertahun-tahun yang lalu Tuhan menugaskan aku menjemput nyawa ibu kedua anak tadi. Aku sempat menolak perintah Tuhan itu tapi kuambil juga nyawa ibu mereka. Aku menganggap Tuhan kejam. Belum lama mereka ditinggal ayahnya, sekarang ibunya harus meninggalkan mereka juga. Dalam perjalanan ke surga, Tuhan mengirim badai yang menghempaskanku ke bumi. Jiwa ibu bayi menghadap Tuhan sendiri.
Tuhan berkata padaku, : 'MIKHAIL, TURUNLAH KE BUMI DAN PELAJARI KETIGA KEBENARAN INI HINGGA KAU MENGERTI:PERTAMA, APAKAH YANG HIDUP DALAM HATI MANUSIA?KEDUA, APA YANG TAK DIIJINKAN PADA MANUSIA?KETIGA, APA YANG PALING DIPERLUKAN MANUSIA?'
"Aku jatuh di halaman gereja, kedinginan dan kelaparan. Simon menemukan dan membawaku pulang. Waktu Matrena marah-marah dan hendak mengusir aku, kulihat maut dibelakangnya. Seandainya ia jadi mengusirku, ia pasti mati malam itu.
Tapi Simon berkata, "Tidakkah di hatimu ada sedikit belas kasih?" Matrena jatuh iba dan memberi aku makan. Saat itulah aku tahu kebenaran pertama:"YANG HIDUP DALAM HATI MANUSIA ADALAH BELAS KASIH"
"Kemudian ada orang kaya yang memesan sepatu yang tahan satu tahun sambil marah-marah. Aku melihat maut di belakangnya. Ia tidak tahu ajalnya sudah dekat. Aku tersenyum untuk kedua kalinya. Saat itulah aku tahu kebenaran kedua:"MANUSIA TIDAK DIIJINKAN MENGETAHUI MASA DEPANNYA. MASA DEPAN MANUSIA ADA DI TANGAN TUHAN"
"Hari ini datang ibu angkat bersama kedua anak kembar tadi. Ibu kandung si kembar itulah yang diperintahkan Tuhan untuk kucabut nyawanya. Dan aku melihat si kembar dirawat dengan baik oleh ibu lain. Aku tersenyum untuk ketiga kalinya dan kali ini tubuhku bercahaya. Aku tahu kebenaran yang ketiga:"MANUSIA DAPAT HIDUP TANPA AYAH DAN IBUNYA TAPI MANUSIA TIDAK AKAN DAPAT HIDUP TANPA TUHANNYA."
Simon, Matrena, terima kasih atas kebaikan kalian berdua. Aku telah mengetahui ketiga kebenaran itu, Tuhan telah mengampuniku. Semoga kasih Tuhan senantiasa menyertai kalian sepanjang hidup."
Mikhail kembali ke surga.
-------------------------
(2 Tesalonika 3:3) Tetapi Tuhan adalah setia. Ia akan menguatkan hatimu dan memelihara kamu terhadap yang jahat.
Yet the Lord is faithful, and He will strengthen and set you on a firm foundation and guard you from the evil.
LORD JESUS bless you and me, now and forever. Amen.
Sumber: http://giajemursarisurabaya.blogspot.com/
Simon berkata, "Mikhail, kau sajalah yang mengerjakan sepatu itu. Aku sudah mulai tua. Mataku agak kurang awas untuk mengerjakan sepatu semahal ini. Hati-hati, ya. Aku tak mau salah satu atau malah kita berdua masuk penjara."
Ketika Mikhail selesai mengerjakan sepatu itu, bukan main terkejutnya Simon. "Astaga, Mikhail, kenapa kau buat sepatu anak-anak? Bukankah yang memesan itu orangnya tinggi besar? Celaka, kita bisa masuk penjara karena...."
Belum selesai Simon berkata, datang si pelayan orang kaya. "Majikanku sudah meninggal. Pesanan dibatalkan. Jika masih ada sisa kulit, istri majikanku minta dibuatkan sepatu anak-anak saja".
"Ini, sepatu anak-anak sudah kubuatkan. Silakan bayar ongkosnya pada Simon", Mikhail menyerahkan sepatu buatannya pada pelayan itu. Pelayan itu terkejut, tapi ia diam saja meskipun heran darimana Mikhail tahu tentang pesanan sepatu anak-anak itu.
Tahun demi tahun berlalu, Mikhail tetap tidak pernah tersenyum kecuali pada dua kali peristiwa tadi. Meskipun penasaran, Simon dan Matrena tak pernah berani menyinggung-nyinggung soal asal usul Mikhail karena takut ia akan meninggalkan mereka.
Suatu hari datanglah seorang ibu dengan dua orang anak kembar yang salah satu kakinya pincang! Ia minta dibuatkan sepatu untuk kedua anak itu. Simon heran sebab Mikhail tampak sangat gelisah. Mukanya muram, padahal biasanya tidak pernah begitu.
Saat mereka hendak pulang, Matrena bertanya pada ibu itu, "Mengapa salah satu dari si kembar ini kakinya pincang?"
Ibu itu menjelaskan, "Sebenarnya mereka bukan anak kandungku. Mereka kupungut ketika ibunya meninggal sewaktu melahirkan mereka. Padahal belum lama ayah mereka juga meninggal. Kasihan, semalaman ibu mereka yang sudah meninggal itu tergeletak dan menindih salah satu kaki anak ini Itu sebabnya ia pincang. Aku sendiri tak punya anak, jadi kurawat mereka seperti anakku sendiri."
"Tuhan Maha Baik, manusia dapat hidup tanpa ayah ibunya, tapi tentu saja manusia takkan dapat hidup tanpa Tuhannya", kata Matrena.
Mendengar itu, Mikhail kembali berseri-seri dan tersenyum untuk ketiga kalinya. Kali ini bukan wajahnya saja yang bercahaya, tapi seluruh tubuhnya.
Sesudah tamu-tamu tersebut pulang, ia membungkuk di depan Simon dan Matrena sambil berkata, "Maafkan semua kesalahan yang pernah kuperbuat, apalagi telah membuat gelisah dengan tidak mau menceritakan asal usulku. Aku dihukum Tuhan, tapi hari ini Tuhan telah mengampuni aku. Sekarang aku mohon pamit."Simon dan Matrena tentu saja heran dan terkejut, "Nanti dulu Mikhail,tolong jelaskan pada kami siapakah sebenarnya kau ini?"
Mikhail menjawab sambil terus tersenyum, "Sebenarnya aku adalah adalah satu malaikat Tuhan. Bertahun-tahun yang lalu Tuhan menugaskan aku menjemput nyawa ibu kedua anak tadi. Aku sempat menolak perintah Tuhan itu tapi kuambil juga nyawa ibu mereka. Aku menganggap Tuhan kejam. Belum lama mereka ditinggal ayahnya, sekarang ibunya harus meninggalkan mereka juga. Dalam perjalanan ke surga, Tuhan mengirim badai yang menghempaskanku ke bumi. Jiwa ibu bayi menghadap Tuhan sendiri.
Tuhan berkata padaku, : 'MIKHAIL, TURUNLAH KE BUMI DAN PELAJARI KETIGA KEBENARAN INI HINGGA KAU MENGERTI:PERTAMA, APAKAH YANG HIDUP DALAM HATI MANUSIA?KEDUA, APA YANG TAK DIIJINKAN PADA MANUSIA?KETIGA, APA YANG PALING DIPERLUKAN MANUSIA?'
"Aku jatuh di halaman gereja, kedinginan dan kelaparan. Simon menemukan dan membawaku pulang. Waktu Matrena marah-marah dan hendak mengusir aku, kulihat maut dibelakangnya. Seandainya ia jadi mengusirku, ia pasti mati malam itu.
Tapi Simon berkata, "Tidakkah di hatimu ada sedikit belas kasih?" Matrena jatuh iba dan memberi aku makan. Saat itulah aku tahu kebenaran pertama:"YANG HIDUP DALAM HATI MANUSIA ADALAH BELAS KASIH"
"Kemudian ada orang kaya yang memesan sepatu yang tahan satu tahun sambil marah-marah. Aku melihat maut di belakangnya. Ia tidak tahu ajalnya sudah dekat. Aku tersenyum untuk kedua kalinya. Saat itulah aku tahu kebenaran kedua:"MANUSIA TIDAK DIIJINKAN MENGETAHUI MASA DEPANNYA. MASA DEPAN MANUSIA ADA DI TANGAN TUHAN"
"Hari ini datang ibu angkat bersama kedua anak kembar tadi. Ibu kandung si kembar itulah yang diperintahkan Tuhan untuk kucabut nyawanya. Dan aku melihat si kembar dirawat dengan baik oleh ibu lain. Aku tersenyum untuk ketiga kalinya dan kali ini tubuhku bercahaya. Aku tahu kebenaran yang ketiga:"MANUSIA DAPAT HIDUP TANPA AYAH DAN IBUNYA TAPI MANUSIA TIDAK AKAN DAPAT HIDUP TANPA TUHANNYA."
Simon, Matrena, terima kasih atas kebaikan kalian berdua. Aku telah mengetahui ketiga kebenaran itu, Tuhan telah mengampuniku. Semoga kasih Tuhan senantiasa menyertai kalian sepanjang hidup."
Mikhail kembali ke surga.
-------------------------
(2 Tesalonika 3:3) Tetapi Tuhan adalah setia. Ia akan menguatkan hatimu dan memelihara kamu terhadap yang jahat.
Yet the Lord is faithful, and He will strengthen and set you on a firm foundation and guard you from the evil.
LORD JESUS bless you and me, now and forever. Amen.
Sumber: http://giajemursarisurabaya.blogspot.com/
KASIH DIHATIMU (Bagian 1)
Zaman dahulu kala di Rusia hidup pasangan suami-istri Simon dan Matrena.
Simon yang miskin ini adalah seorang pembuat sepatu. Meskipun hidupnya tidaklah berkecukupan, Simon adalah seorang yang mensyukuri hidupnya yang pas-pasan. Masih banyak orang lain yang hidup lebih miskin daripada Simon.
Banyak orang-orang itu yang malah berhutang padanya.Kebanyakan berhutang ongkos pembuatan sepatu. Maklumlah, di Rusia sangat dingin sehingga kepemilikan sepatu dan mantel merupakan hal yang mutlak jika tidak mau mati kedinginan.
Suatu hari keluarga tersebut hendak membeli mantel baru karena mantel mereka sudah banyak yang berlubang-lubang. Uang simpanan mereka hanya 3 rubel (rubel = mata uang Rusia) padahal mantel baru yang paling murah harganya 5 rubel.
Maka Matrena meminta pada suaminya untuk menagih hutang orang-orang yang telah mereka buatkan sepatu. Maka Simon pun berangkat pergi menagih hutang. Tapi tak satupun yang membayar. Dengan sedih Simon pulang. Ia batal membeli mantel.
Dalam perjalanan pulang, Simon melewati gereja, dan saat itu ia melihat sesosok manusia yang sangat putih bersandar di dinding luar gereja. Orang itu tak berpakaian dan kelihatan sekali ia sangat kedinginan.
Simon ketakutan, "Siapakah dia? Setankah? Ah, daripada terlibat macam-macam lebih baik aku pulang saja". Simon bergegas mempercepat langkahnya sambil sesekali mengawasi belakangnya, ia takut kalau orang itu tiba-tiba mengejarnya.
Namun ketika semakin jauh, suara hatinya berkata, "HAI SIMON, TAK MALUKAH KAU? KAU PUNYA MANTEL MESKIPUN SUDAH BERLUBANG-LUBANG, SEDANGKAN ORANG ITU TELANJANG. PANTASKAH ORANG MENINGGALKAN SESAMANYA BEGITU SAJA?"
Simon ragu, tapi akhirnya toh ia balik lagi ke tempat orang itu bersandar. Ketika sudah dekat, dilihatnya orang itu ternyata pria yang wajahnya sungguh tampan.
Kulitnya bersih seperti kulit bangsawan. Badannya terlihat lemas dan tidak berdaya, namun sorot matanya menyiratkan rasa terima kasih yang amat sangat ketika Simon memakaikan mantel luarnya kepada orang itu dan memapahnya berdiri. Ia tidak bisa menjawab sepatah kata pun atas pertanyaan-pertanyaan Simon, sehingga Simon memutuskan untuk membawanya pulang.
Sesampainya di rumah, Matrena marah sekali karena Simon tidak membawa mantel baru dan membawa seorang pria asing. "Simon, siapa ini? Mana mantel barunya? "
Simon mencoba menyabarkan Matrena, "Sabar, Matrena.... dengar dulu penjelasanku. Orang ini kutemukan di luar gereja, ia kedinginan, jadi kuajak sekalian pulang".
"Bohong!! Aku tak percaya....sudahlah, pokoknya aku tak mau dengar ceritamu! Sudah tahu kita ini miskin kok masih sok suci menolong orang segala!! Usir saja dia!!"
"Astaga, Matrena! Jangan berkata begitu, seharusnya kita bersyukur karena kita masih bisa makan dan punya pakaian, sedangkan orang ini telanjang dan kelaparan. Tidakkah di hatimu ada sedikit belas kasih?"
Matrena menatap wajah pria asing itu, mendadak ia merasa iba. Lalu disiapkannya makan malam sederhana berupa roti keras dan air hangat. "Silakan makan, hanya sebeginilah makanan yang ada. Siapa namamu dan darimana asalmu? Bagaimana ceritanya kau bisa telanjang di luar gereja?"
Tiba-tiba wajah pria asing itu bercahaya. Mukanya berseri dan ia tersenyum untuk pertama kalinya. "Namaku Mikhail, asalku dari jauh. Sayang sekali banyak yang tak dapat kuceritakan. Kelak akan tiba saatnya aku boleh menceritakan semua yang kalian ingin ketahui tentang aku. Aku akan sangat berterima kasih kalau kalian mau menerimaku bekerja di sini."
"Ah, Mikhail, usaha sepatuku ini cuma usaha kecil. Aku takkan sanggup menggajimu", demikian Simon menjawab.
"Tak apa, Simon. Kalau kau belum sanggup menggajiku, aku tak keberatan kerja tanpa gaji asalkan aku mendapat makan dan tempat untuk tidur."
"Baiklah kalau kau memang mau begitu. Besok kau mulai bekerja".
Malamnya pasangan suami-istri itu tak dapat tidur. Mereka bertanya-tanya. "Simon tidakkah kita keliru menerima orang itu? Bagaimana jika Mikhail itu ternyata buronan?" Matrena bertanya dengan gelisah pada Simon.
Simon menjawab, "Sudahlah Matrena. Percayalah pada pengaturan Tuhan. Biarlah ia tinggal di sini.Tingkah lakunya cukup baik. Kalau ternyata ia berperilaku tidak baik, segera kuusir dia".
Esoknya Mikhail mulai bekerja membantu Simon membuat dan memperbaiki sepatu. Di bengkelnya, Simon mengajari Mikhail memintal benang dan membuat pola serta menjahit kulit untuk sepatu. Sungguh aneh, baru tiga hari belajar, Mikhail sudah bisa membuat sepatu lebih baik dan rapi daripada Simon.
Lama kelamaan bengkel sepatu Simon mulai terkenal karena sepatu buatan Mikhail yang bagus. Banyak pesanan mengalir dari desa-desa yang penduduknya kaya. Simon tidak lagi miskin. Keluarga itu sangat bersyukur karena mereka sadar, tanpa bantuan tangan terampil Mikhail, usaha mereka takkan semaju ini.
Namun mereka juga terus bertanya-tanya dalam hati, siapa sebenarnya Mikhail ini. Anehnya, selama Mikhail tinggal bersama mereka, baru sekali saja ia tersenyum, yaitu dulu saat Matrena memberi Mikhail makan. Namun meski tanpa senyum, muka Mikhail selalu berseri sehingga orang tak takut melihat wajahnya.
Suatu hari datanglah seorang kaya bersama pelayannya. Orang itu tinggi besar, galak dan terlihat kejam. "Hai Simon, Aku minta dibuatkan sepatu yang harus tahan setahun mengahadapi cuaca dingin. Kalau sepatu itu rusak sebelum setahun, kuseret kau ke muka hakim untuk dipenjarakan!! Ini, kubawakan kulit terbaik untuk bahan sepatu. Awas, hati-hati ini kulit yang sangat mahal!"
-----------------------
LORD JESUS bless you and me, now and forever. Amen.
Sumber: http://giajemursarisurabaya.blogspot.com/
Simon yang miskin ini adalah seorang pembuat sepatu. Meskipun hidupnya tidaklah berkecukupan, Simon adalah seorang yang mensyukuri hidupnya yang pas-pasan. Masih banyak orang lain yang hidup lebih miskin daripada Simon.
Banyak orang-orang itu yang malah berhutang padanya.Kebanyakan berhutang ongkos pembuatan sepatu. Maklumlah, di Rusia sangat dingin sehingga kepemilikan sepatu dan mantel merupakan hal yang mutlak jika tidak mau mati kedinginan.
Suatu hari keluarga tersebut hendak membeli mantel baru karena mantel mereka sudah banyak yang berlubang-lubang. Uang simpanan mereka hanya 3 rubel (rubel = mata uang Rusia) padahal mantel baru yang paling murah harganya 5 rubel.
Maka Matrena meminta pada suaminya untuk menagih hutang orang-orang yang telah mereka buatkan sepatu. Maka Simon pun berangkat pergi menagih hutang. Tapi tak satupun yang membayar. Dengan sedih Simon pulang. Ia batal membeli mantel.
Dalam perjalanan pulang, Simon melewati gereja, dan saat itu ia melihat sesosok manusia yang sangat putih bersandar di dinding luar gereja. Orang itu tak berpakaian dan kelihatan sekali ia sangat kedinginan.
Simon ketakutan, "Siapakah dia? Setankah? Ah, daripada terlibat macam-macam lebih baik aku pulang saja". Simon bergegas mempercepat langkahnya sambil sesekali mengawasi belakangnya, ia takut kalau orang itu tiba-tiba mengejarnya.
Namun ketika semakin jauh, suara hatinya berkata, "HAI SIMON, TAK MALUKAH KAU? KAU PUNYA MANTEL MESKIPUN SUDAH BERLUBANG-LUBANG, SEDANGKAN ORANG ITU TELANJANG. PANTASKAH ORANG MENINGGALKAN SESAMANYA BEGITU SAJA?"
Simon ragu, tapi akhirnya toh ia balik lagi ke tempat orang itu bersandar. Ketika sudah dekat, dilihatnya orang itu ternyata pria yang wajahnya sungguh tampan.
Kulitnya bersih seperti kulit bangsawan. Badannya terlihat lemas dan tidak berdaya, namun sorot matanya menyiratkan rasa terima kasih yang amat sangat ketika Simon memakaikan mantel luarnya kepada orang itu dan memapahnya berdiri. Ia tidak bisa menjawab sepatah kata pun atas pertanyaan-pertanyaan Simon, sehingga Simon memutuskan untuk membawanya pulang.
Sesampainya di rumah, Matrena marah sekali karena Simon tidak membawa mantel baru dan membawa seorang pria asing. "Simon, siapa ini? Mana mantel barunya? "
Simon mencoba menyabarkan Matrena, "Sabar, Matrena.... dengar dulu penjelasanku. Orang ini kutemukan di luar gereja, ia kedinginan, jadi kuajak sekalian pulang".
"Bohong!! Aku tak percaya....sudahlah, pokoknya aku tak mau dengar ceritamu! Sudah tahu kita ini miskin kok masih sok suci menolong orang segala!! Usir saja dia!!"
"Astaga, Matrena! Jangan berkata begitu, seharusnya kita bersyukur karena kita masih bisa makan dan punya pakaian, sedangkan orang ini telanjang dan kelaparan. Tidakkah di hatimu ada sedikit belas kasih?"
Matrena menatap wajah pria asing itu, mendadak ia merasa iba. Lalu disiapkannya makan malam sederhana berupa roti keras dan air hangat. "Silakan makan, hanya sebeginilah makanan yang ada. Siapa namamu dan darimana asalmu? Bagaimana ceritanya kau bisa telanjang di luar gereja?"
Tiba-tiba wajah pria asing itu bercahaya. Mukanya berseri dan ia tersenyum untuk pertama kalinya. "Namaku Mikhail, asalku dari jauh. Sayang sekali banyak yang tak dapat kuceritakan. Kelak akan tiba saatnya aku boleh menceritakan semua yang kalian ingin ketahui tentang aku. Aku akan sangat berterima kasih kalau kalian mau menerimaku bekerja di sini."
"Ah, Mikhail, usaha sepatuku ini cuma usaha kecil. Aku takkan sanggup menggajimu", demikian Simon menjawab.
"Tak apa, Simon. Kalau kau belum sanggup menggajiku, aku tak keberatan kerja tanpa gaji asalkan aku mendapat makan dan tempat untuk tidur."
"Baiklah kalau kau memang mau begitu. Besok kau mulai bekerja".
Malamnya pasangan suami-istri itu tak dapat tidur. Mereka bertanya-tanya. "Simon tidakkah kita keliru menerima orang itu? Bagaimana jika Mikhail itu ternyata buronan?" Matrena bertanya dengan gelisah pada Simon.
Simon menjawab, "Sudahlah Matrena. Percayalah pada pengaturan Tuhan. Biarlah ia tinggal di sini.Tingkah lakunya cukup baik. Kalau ternyata ia berperilaku tidak baik, segera kuusir dia".
Esoknya Mikhail mulai bekerja membantu Simon membuat dan memperbaiki sepatu. Di bengkelnya, Simon mengajari Mikhail memintal benang dan membuat pola serta menjahit kulit untuk sepatu. Sungguh aneh, baru tiga hari belajar, Mikhail sudah bisa membuat sepatu lebih baik dan rapi daripada Simon.
Lama kelamaan bengkel sepatu Simon mulai terkenal karena sepatu buatan Mikhail yang bagus. Banyak pesanan mengalir dari desa-desa yang penduduknya kaya. Simon tidak lagi miskin. Keluarga itu sangat bersyukur karena mereka sadar, tanpa bantuan tangan terampil Mikhail, usaha mereka takkan semaju ini.
Namun mereka juga terus bertanya-tanya dalam hati, siapa sebenarnya Mikhail ini. Anehnya, selama Mikhail tinggal bersama mereka, baru sekali saja ia tersenyum, yaitu dulu saat Matrena memberi Mikhail makan. Namun meski tanpa senyum, muka Mikhail selalu berseri sehingga orang tak takut melihat wajahnya.
Suatu hari datanglah seorang kaya bersama pelayannya. Orang itu tinggi besar, galak dan terlihat kejam. "Hai Simon, Aku minta dibuatkan sepatu yang harus tahan setahun mengahadapi cuaca dingin. Kalau sepatu itu rusak sebelum setahun, kuseret kau ke muka hakim untuk dipenjarakan!! Ini, kubawakan kulit terbaik untuk bahan sepatu. Awas, hati-hati ini kulit yang sangat mahal!"
-----------------------
LORD JESUS bless you and me, now and forever. Amen.
Sumber: http://giajemursarisurabaya.blogspot.com/
KEKAYAAN, KESUKSESAN DAN KASIH SAYANG
Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah dari perjalanannya keluar rumah, dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua.
Wanita itu berkata dengan senyumnya yang khas: “Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti orang baik-baik yang sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut”.
Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, “Apakah suamimu sudah pulang?”
Wanita itu menjawab, “Belum, dia sedang keluar”.
“Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali”, kata pria itu.
Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, “Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini”.
Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam.
“Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama”, kata pria itu hampir bersamaan.
“Lho, kenapa? tanya wanita itu karena merasa heran.
Salah seseorang pria itu berkata, “Nama dia Kekayaan,” katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, “sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. Sedangkan aku sendiri bernama Kasih-Sayang. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu.”
Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar. Suaminya pun merasa heran. “Ohho…menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan.”
Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, “Sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen ladang pertanian kita.”
Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. “Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Kasih-sayang yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Kasih-sayang.”
Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. “Baiklah, ajak masuk si Kasih-sayang ini ke dalam. Dan malam ini, Si Kasih-sayang menjadi teman santap malam kita.”
Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. “Siapa diantara Anda yang bernama Kasih-sayang? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini.”
Si Kasih-sayang berdiri, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho.. ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan.
“Aku hanya mengundang si Kasih-sayang yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga?”
Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. “Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Kasih-sayang, maka, kemana pun Kasih sayang pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Kasih-sayang, maka kekayaan dan kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini buta. Dan hanya si Kasih-sayang yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini.”
Saudaraku terkasih,
Banyak orang terlalu fokus pada pencarian kekayaan dan terlalu sibuk pada aktivitas pekerjaan dan lupa untuk memperhatikan hal-hal rohani yang sessungguhnya akan sangat bermanfaat bagi totalitas kehidupannya. Di dunia ini juga banyak pilihan-pilihan, sebagian pilihan menawarkan kesuksesan dan kekayaan, sebagian pilihan menawarkan kehadiran dan pertolongan Tuhan.
Namun kebanyakan orang kehilangan Allah ketika mereka hanya memilih kesuksesan atau kekayaan. Padahal Tuhan telah berjanji, apabila orang percaya memilih untuk mencari kerajaan Allah dan kebenarannya maka semua hal-hal yang diperlukan akan ditambahkan kepada mereka yang sungguh-sungguh mencari-Nya.
“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33)
But seek first of all His kingdom and His righteousness, and then all these things taken together will be given you besides.
-----------------------
LORD JESUS bless you and me, now and forever. Amen.
Sumber: http://giajemursarisurabaya.blogspot.com/
Wanita itu berkata dengan senyumnya yang khas: “Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti orang baik-baik yang sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut”.
Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, “Apakah suamimu sudah pulang?”
Wanita itu menjawab, “Belum, dia sedang keluar”.
“Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali”, kata pria itu.
Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, “Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini”.
Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam.
“Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama”, kata pria itu hampir bersamaan.
“Lho, kenapa? tanya wanita itu karena merasa heran.
Salah seseorang pria itu berkata, “Nama dia Kekayaan,” katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, “sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. Sedangkan aku sendiri bernama Kasih-Sayang. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu.”
Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar. Suaminya pun merasa heran. “Ohho…menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan.”
Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, “Sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen ladang pertanian kita.”
Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. “Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Kasih-sayang yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Kasih-sayang.”
Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. “Baiklah, ajak masuk si Kasih-sayang ini ke dalam. Dan malam ini, Si Kasih-sayang menjadi teman santap malam kita.”
Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. “Siapa diantara Anda yang bernama Kasih-sayang? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini.”
Si Kasih-sayang berdiri, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho.. ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan.
“Aku hanya mengundang si Kasih-sayang yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga?”
Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. “Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Kasih-sayang, maka, kemana pun Kasih sayang pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Kasih-sayang, maka kekayaan dan kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini buta. Dan hanya si Kasih-sayang yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini.”
Saudaraku terkasih,
Banyak orang terlalu fokus pada pencarian kekayaan dan terlalu sibuk pada aktivitas pekerjaan dan lupa untuk memperhatikan hal-hal rohani yang sessungguhnya akan sangat bermanfaat bagi totalitas kehidupannya. Di dunia ini juga banyak pilihan-pilihan, sebagian pilihan menawarkan kesuksesan dan kekayaan, sebagian pilihan menawarkan kehadiran dan pertolongan Tuhan.
Namun kebanyakan orang kehilangan Allah ketika mereka hanya memilih kesuksesan atau kekayaan. Padahal Tuhan telah berjanji, apabila orang percaya memilih untuk mencari kerajaan Allah dan kebenarannya maka semua hal-hal yang diperlukan akan ditambahkan kepada mereka yang sungguh-sungguh mencari-Nya.
“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33)
But seek first of all His kingdom and His righteousness, and then all these things taken together will be given you besides.
-----------------------
LORD JESUS bless you and me, now and forever. Amen.
Sumber: http://giajemursarisurabaya.blogspot.com/
"Mengapa Orang jatuh bangun dalam Dosa?
mengapa orang jatuh bangun dalam dosa?
Cobalah jawab pertanyaan berikut :
Apakah Anda pernah berbuat dosa?
Apakah Anda pernah mengambil keputusan untuk bertobat dari dosa yang Anda lakukan?
Apakah Anda pernah mengambil keputusan bertobat dari dosa, tetapi tidak lama kemudian jatuh lagi dalam dosa yang sama?
Mengapa banyak orang yang ketika tersentuh dengan Firman Tuhan yang didengarnya dan telah mengambil keputusan untuk bertobat dari dosa yang telah dilakukan, tetapi tidak lama kemudian jatuh lagi dalam dosa yang sama?
Mengapa? Maz 119:9 => Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.
Karena orang tersebut tidak hidup dalam Firman Tuhan tersebut.
Mari kita lihat perumpamaan tentang seorang penabur di Matius 13:19-22.
Benih yang ditabur di pinggir jalanOrang yang tidak mengerti Firman yang didengar dan tidak mau bertobat dan akhirnya tetap hidup dalam dosa.
Benih yang ditabur di batu-batuOrang yang menerima Firman dan mengambil keputusan untuk bertobat, tetapi tidak tahan/kuat dalam pencobaan, akhirnya kompromi dengan dosa dan kemudian jatuh dalam dosa lagi.
Benih yang ditabur di semak duriOrang yang menerima Firman dan mengambil keputusan untuk bertobat, tetapi ada yang menggeser Firman tersebut, misalnya pergaulan yang buruk, terikat dengan game, foya-foya, dugem, dll. Akibatnya orang tersebut lupa akan Firman tersebut dan akhirnya jatuh lagi dalam dosa bahkan melahirkan dosa baru.
Semuanya ini terjadi karena orang tersebut tidak hidup dalam Firman Tuhan. Hanya Firman Tuhan yang bisa membebaskan kita dari jerat dosa. Jika kita tidak hidup dalam Firman Tuhan, maka dosa masih akan tetap berkuasa atas kita.
Bagamana cara bangkit dari dosa ?
Membuat komitmen/keputusan untuk bertobatTanpa komitmen/keputusan untuk bertobat kita akan menjadi semakin kompromi dengan dosa. Karena itu komitmen untuk bertobat adalah langkah awal yang sangat penting.
Lakukan komitmen tersebut dan isi dengan Firman Tuhan
Matius 7:24-27 dan Lukas 11:24-26Ketika kita memutuskan untuk bertobat, maka kita harus isi hidup kita dengan Firman Tuhan dan bukan mengalihkannya dengan hal lain, sebab hanya dengan Firman Tuhan kita bisa terbebas dari jerat dosa. Jika kita tidak mengisinya dengan Firman Tuhan, maka dosa itu akan menghampiri kita lagi.
Tetaplah taat, setia, dan terus-menerus hidup dalam Firman TuhanBagaimana kesetiaan teruji? Jika ada hal yang mulai menggoncang komitmen kita. Kadangkala ada godaan untuk kita melakukan dosa tersebut, tapi ingatlah saat itulah kesetiaan kita teruji, kita harus berkata tidak terhadap dosa dan jangan sekali-kali kompromi dengannya
Miliki teman komit yang bisa saling menguatkan
Pengkotbah 4:9-12Dengan adanya teman komit, kita akan saling diperkuat, dijaga, dan didukung untuk terus hidup dalam Firman Tuhan.
Di Ulangan 30:15-20 Tuhan menghadapkan kita kepada dua pilihan, apakah kita mau memilih berkat atau kutuk. Pilihan ada di tangan kita.Jika kita memilih hidup dalam Firman Tuhan maka Ulangan 28:1-2 akan terjadi dalam hidup kita, tetapi jika kita lebih memilih hidup dalam dosa maka Ulangan 28:15 yang akan terjadi dalam hidup kita.
Jangan pernah mengijinkan benih-benih dosa mengambil sekecil apapun dari hidup kita untuk bertumbuh. Saat kita telah menganggap sepele perkara-perkara dosa dan memberi tempat dalam hidup kita, maka tanpa kita sadari, ia akan menghancurkan hidup kita. Sekali tabur dosa kehidupan rohani menurun, dua kali tabur dosa keinginan dunia akan terlihat lebih menyenangkan, tiga kali tabur dosa hubungan dengan Tuhan akan semakin menjauh.
Janganlah kompromi dengan dosa, hiduplah dalam Firman agar kita kuat dan terbebas dari jerat dosa.
(^__^).........GBU all
Cobalah jawab pertanyaan berikut :
Apakah Anda pernah berbuat dosa?
Apakah Anda pernah mengambil keputusan untuk bertobat dari dosa yang Anda lakukan?
Apakah Anda pernah mengambil keputusan bertobat dari dosa, tetapi tidak lama kemudian jatuh lagi dalam dosa yang sama?
Mengapa banyak orang yang ketika tersentuh dengan Firman Tuhan yang didengarnya dan telah mengambil keputusan untuk bertobat dari dosa yang telah dilakukan, tetapi tidak lama kemudian jatuh lagi dalam dosa yang sama?
Mengapa? Maz 119:9 => Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.
Karena orang tersebut tidak hidup dalam Firman Tuhan tersebut.
Mari kita lihat perumpamaan tentang seorang penabur di Matius 13:19-22.
Benih yang ditabur di pinggir jalanOrang yang tidak mengerti Firman yang didengar dan tidak mau bertobat dan akhirnya tetap hidup dalam dosa.
Benih yang ditabur di batu-batuOrang yang menerima Firman dan mengambil keputusan untuk bertobat, tetapi tidak tahan/kuat dalam pencobaan, akhirnya kompromi dengan dosa dan kemudian jatuh dalam dosa lagi.
Benih yang ditabur di semak duriOrang yang menerima Firman dan mengambil keputusan untuk bertobat, tetapi ada yang menggeser Firman tersebut, misalnya pergaulan yang buruk, terikat dengan game, foya-foya, dugem, dll. Akibatnya orang tersebut lupa akan Firman tersebut dan akhirnya jatuh lagi dalam dosa bahkan melahirkan dosa baru.
Semuanya ini terjadi karena orang tersebut tidak hidup dalam Firman Tuhan. Hanya Firman Tuhan yang bisa membebaskan kita dari jerat dosa. Jika kita tidak hidup dalam Firman Tuhan, maka dosa masih akan tetap berkuasa atas kita.
Bagamana cara bangkit dari dosa ?
Membuat komitmen/keputusan untuk bertobatTanpa komitmen/keputusan untuk bertobat kita akan menjadi semakin kompromi dengan dosa. Karena itu komitmen untuk bertobat adalah langkah awal yang sangat penting.
Lakukan komitmen tersebut dan isi dengan Firman Tuhan
Matius 7:24-27 dan Lukas 11:24-26Ketika kita memutuskan untuk bertobat, maka kita harus isi hidup kita dengan Firman Tuhan dan bukan mengalihkannya dengan hal lain, sebab hanya dengan Firman Tuhan kita bisa terbebas dari jerat dosa. Jika kita tidak mengisinya dengan Firman Tuhan, maka dosa itu akan menghampiri kita lagi.
Tetaplah taat, setia, dan terus-menerus hidup dalam Firman TuhanBagaimana kesetiaan teruji? Jika ada hal yang mulai menggoncang komitmen kita. Kadangkala ada godaan untuk kita melakukan dosa tersebut, tapi ingatlah saat itulah kesetiaan kita teruji, kita harus berkata tidak terhadap dosa dan jangan sekali-kali kompromi dengannya
Miliki teman komit yang bisa saling menguatkan
Pengkotbah 4:9-12Dengan adanya teman komit, kita akan saling diperkuat, dijaga, dan didukung untuk terus hidup dalam Firman Tuhan.
Di Ulangan 30:15-20 Tuhan menghadapkan kita kepada dua pilihan, apakah kita mau memilih berkat atau kutuk. Pilihan ada di tangan kita.Jika kita memilih hidup dalam Firman Tuhan maka Ulangan 28:1-2 akan terjadi dalam hidup kita, tetapi jika kita lebih memilih hidup dalam dosa maka Ulangan 28:15 yang akan terjadi dalam hidup kita.
Jangan pernah mengijinkan benih-benih dosa mengambil sekecil apapun dari hidup kita untuk bertumbuh. Saat kita telah menganggap sepele perkara-perkara dosa dan memberi tempat dalam hidup kita, maka tanpa kita sadari, ia akan menghancurkan hidup kita. Sekali tabur dosa kehidupan rohani menurun, dua kali tabur dosa keinginan dunia akan terlihat lebih menyenangkan, tiga kali tabur dosa hubungan dengan Tuhan akan semakin menjauh.
Janganlah kompromi dengan dosa, hiduplah dalam Firman agar kita kuat dan terbebas dari jerat dosa.
(^__^).........GBU all
KRISIS MENUNJUKKAN KARAKTER
Karakter tidak dibuat dalam krisis, hanya ditunjukkan.
Beberapa tahun yang lalu dalam sebuah penerbangan dari Orlando, si pilot menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada saat pesawat lepas landas. la cepat-cepat kembali ke bandara Orlando dan memperingatkan para penumpang untuk bersiap-siap menghadapi pendaratan darurat karena sistem hidrolik gagal.
Para penumpang terpaku dan terlihat ketakutan. Banyak yang mulai menangis, dan beberapa orang bahkan meratap-ratap atau berteriak-teriak. Hampir semuanya gelisah dengan satu atau lain cara, namun seorang wanita terus berhicara dengan suara yang tenang dan biasa saja. la menatap wajah putrinya yang berusia empat tahun, yang mendengarkan dia dengan sungguh - sungguh.
Wanita itu berkata, “Ibu sangat menyayangimu. Kamu tahu Ibu menyayangimu lebih dari segalanya?”
“Ya, Ibu?”
Si ibu melanjutkan, “Dan ingat, tak peduli apa pun yang terjadi, Ibu selalu menyayangimu. Dan kamu adalah anak yang baik. Kadang-kadang terjadi hal-hal yang bukan kesalahanmu. Kamu tetap seorang anak yang baik dan kasih Ibu akan selalu menyertaimu.
Lalu si ibu menutupi tubuh putrinya dengan tubuhnya, mengikatkan sabuk pengaman di atas mereka berdua, dan bersiap kalau-kalau pesawat mereka jatuh. Kasih dan karakter si ibu memberi putrinya keberanian. Sungguh suatu mukjizat, sistem pendaratan dapat berfungsi. Pesawat itu mendarat dengan selamat.
Karakter dibangun selapis demi selapis, tidak dalam satu tindakan besar. “Memiliki apa yang dibutuhkan ” untuk hari esok merupakan hasil langsung dari “melakukan apa yang benar” hari ini.
Sumber: Kisah-kisah Rohani Pembangkit Semangat untuk Semua Orang
Beberapa tahun yang lalu dalam sebuah penerbangan dari Orlando, si pilot menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada saat pesawat lepas landas. la cepat-cepat kembali ke bandara Orlando dan memperingatkan para penumpang untuk bersiap-siap menghadapi pendaratan darurat karena sistem hidrolik gagal.
Para penumpang terpaku dan terlihat ketakutan. Banyak yang mulai menangis, dan beberapa orang bahkan meratap-ratap atau berteriak-teriak. Hampir semuanya gelisah dengan satu atau lain cara, namun seorang wanita terus berhicara dengan suara yang tenang dan biasa saja. la menatap wajah putrinya yang berusia empat tahun, yang mendengarkan dia dengan sungguh - sungguh.
Wanita itu berkata, “Ibu sangat menyayangimu. Kamu tahu Ibu menyayangimu lebih dari segalanya?”
“Ya, Ibu?”
Si ibu melanjutkan, “Dan ingat, tak peduli apa pun yang terjadi, Ibu selalu menyayangimu. Dan kamu adalah anak yang baik. Kadang-kadang terjadi hal-hal yang bukan kesalahanmu. Kamu tetap seorang anak yang baik dan kasih Ibu akan selalu menyertaimu.
Lalu si ibu menutupi tubuh putrinya dengan tubuhnya, mengikatkan sabuk pengaman di atas mereka berdua, dan bersiap kalau-kalau pesawat mereka jatuh. Kasih dan karakter si ibu memberi putrinya keberanian. Sungguh suatu mukjizat, sistem pendaratan dapat berfungsi. Pesawat itu mendarat dengan selamat.
Karakter dibangun selapis demi selapis, tidak dalam satu tindakan besar. “Memiliki apa yang dibutuhkan ” untuk hari esok merupakan hasil langsung dari “melakukan apa yang benar” hari ini.
Sumber: Kisah-kisah Rohani Pembangkit Semangat untuk Semua Orang
Langganan:
Postingan (Atom)