Sabtu, 21 April 2012
Exapteriga
Exapteriga adalah kipas yang menggambarkan Serafim/Malaikat yang bersayap enam (Wah 4:8). Dengan demikian ini menegaskan bahwa dalam Liturgy Ilahi, Gereja disatukan dengan Ibadah Para Malaikat di Surga (Wahyu 4 : 7-11, Yes 6:1-10 ) yang jumlahnya "beribu-ribu.......suatu kumpulan yang meriah" ( Ibr 12:22) memuji Allah, sehingga dalam ibadah ini para Malaikat hadir di tengah-tengah kita, dan kita ditengah-tengah mereka. Pada waktu prosesi Injil maupun Persembahan oleh imam, Exapteriga ini dipakai mengiringi, yang memaknai adanya malaikat yang mengiringi.
Senin, 09 April 2012
Troparion Paskah

Minggu, 25 Maret 2012
TUJUAN BERSAMA
Burung bintik-bintik telah menghilang dari AS. Pada awalnya, diyakini bahwa penebangan pohon-pohon tua merupakan ancaman terbesar yang dihadapi burung hantu bintik-bintik ini. Namun, penelitian menunjukkan bahwa salah satu kerabat burung hantu inilah yang kemungkinan merupakan masalah. Selama 15 tahun terakhir, burung hantu polos telah berimigrasi secara besar-besaran ke barat. Burung hantu polos, yang biasanya hanya hidup secara eksklusif di sebelah timur Mississippi, bersaing untuk mendapatkan makanan yang sama dengan burung hantu bintik-bintik, dan burung hantu polos ini lebih agresif dan lebih cepat beradaptasi.
Sama halnya, konflik terbesar yang kita alami seringkali tidak berasal dari luar gereja, tetapi dari semua orang kristen. Hal ini dialami oleh gereja Korintus. Paulus membutuhkan waktu untuk menegur roh perpecahan yang telah tumbuh di jemaat ini. Roh perpecahan ini mengancam keutuhan gereja. Paulus, dengan dorongan pengembalaan, menguatkan jemaat Korintus untuk dapat sepakat tentang hal-hal yang terpenting dan tidak berselisih karena hal-hal sepeleh. Orang-orang berselisih karena mereka mengelompokkan diri dengan para pemimpin yang Kristen yang berbeda--Paulus, Apolos, Petrus, dan bahkan Kristus. Perpecahan ini terjadi karena mereka lebih menghargai pemimpin (Pendeta) favorit mereka daripada kesatuan di dalam Kristus.
Paulus mengatakan bahwa hal terpenting yang seharusnya mempersatukan gereja adalah memberitakan kabar baik. Hal ini seharusnya juga menjadi tujuan kita bersama. Mari kita berdoa untuk gereja kita, agar tidak terjadi perpecahan, tetapi selalu punya tujuan dan visi yang sama.
Firman Tuhan.
Tetapi aku menasehatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu.
(1 Korintus 1:10).
Hari Raya Kabar Sukacita
Gereja merayakan peristiwa ini secara khusus mengingat arti dan maknanya bagi keselamatan manusia. Boleh dikatakan peristiwa Sabda menjadi daging berawal pada saat Maria menyatakan kesediaannya dan persetujuannya kepada Malaikat Gabriel, pembawa khabar gembira itu, dan semenjak itu pula Maria menjadi Bunda Allah. Satu hal yang harus kita camkan dalam hati ialah hormat Allah pada Maria sebagaimana terlihat dalam permintaan kesediaan Maria untuk menerima Sabda Allah dalam rahimnya. Disini Allah tidak memaksa Maria, tetapi meminta kesediaannya. Maria sendiri menyadari bahwa Tuhan memilih dia karena menganggap dia layak untuk menerima khabar gembira itu. Tetapi sebagai manusia, Maria masih tampak ragu- ragu akan makna khabar itu. Oleh karena itu, ia menanyakan lebih lanjut keterangan dari malaikat Allah itu: Bagaimana hal ini mungkin terjadi ? Dan ketika ia sudah merasa pasti akan makna khabar gembira malaikat itu, Maria berkata: Aku ini hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataan Mu.
Semoga hari raya Kabar Sukacita ini menumbuhkan dalam diri kita semangat ketaatan ada Allah dan kesediaan berkerja sama dengan Allah dalam karya penyelamatan Nya.
Sumber : http://
Jumat, 23 Desember 2011
Siapakah Para Majus?

Injil Matius menyebut tentang para majus yang datang dari Timur untuk menyembah bayi Kristus yang baru dilahirkan (bdk. Mat 2:1-12). Tetapi, tepatnya siapakah para majus tersebut tetap merupakan suatu misteri.
Seringkali para majus disebut juga sebagai ahli perbintangan. Dalam bahasa Yunani, bahasa asli Injil, kata “magos” (magoi, jamak) mempunyai empat arti: (1) seorang dari golongan imam Persia kuno, di mana astrologi dan astronomi berperan penting pada masa Kitab Suci; (2) seorang yang memiliki pengetahuan dan kuasa gaib (= okultisme), dan mahir dalam menafsirkan mimpi, perbintangan, ramal, hal-hal klenik, dan perantara roh; (3) seorang ahli nujum; atau (4) seorang dukun, yang memeras orang dengan mempergunakan praktek-praktek di atas. Dari definisi yang mungkin di atas dan dari gambaran dalam Injil, para majus kemungkinan adalah para imam Persia ahli perbintangan yang dapat membaca bintang-bintang, teristimewa makna bintang yang mewartakan kelahiran Mesias. (Bahkan ahli sejarah kuno Herodotus (wafat abad ke-5 SM) menegaskan keahlian kaum imam Persia dalam perbintangan).
Yang terpenting, kunjungan para majus menggenapi nubuat Perjanjian Lama: Bileam menubuatkan kedatangan Mesias yang akan ditandai dengan sebuah bintang: “Aku melihat dia, tetapi bukan sekarang; aku memandang dia, tetapi bukan dari dekat; bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel…” (Bil 24:17). Mazmur 72 berbicara mengenai bagaimana bangsa kafir akan datang untuk menyembah Mesias: “kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan-persembahan, kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba menyampaikan upeti! Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi hambanya!” (Mzm 72:10-11). Yesaya juga menubuatkan persembahan-persembahan: “Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu, unta-unta muda dari Midian dan Efa. Mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur TUHAN” (Yes 60:6).
St. Matius mencatat bahwa para majus membawa tiga persembahan; masing-masing persembahan memiliki makna nubuat: emas, persembahan bagi seorang raja; kemenyan, persembahan bagi seorang imam; dan mur - balsam penguburan, persembahan bagi seorang yang akan meninggal. St. Ireneus (wafat 202) dalam tulisannya Adversus haereses menyampaikan tafsiran atas persembahan emas, kemenyan dan mur sebagai berikut: Raja, Tuhan dan Penebus yang Menderita, juga menafsirkannya sebagai keutamaan, doa dan penderitaan.
Pada umumnya, kita berpikiran bahwa ketiga majus tersebut adalah tiga orang raja. Kita biasa menempatkan patung tiga raja di gua natal kita. Kita bahkan menyanyikan, “Kami tiga raja dari Timur….” Di sini, ketiga persembahan, Mazmur 72 dan bintang yang terbit di Timur secara bersama-sama menggambarkan para majus sebagai tiga raja yang datang dari Timur.
Sebenarnya, tradisi awali tidak konsisten mengenai jumlah para majus. Tradisi Timur menyebutkan ada duabelas orang majus. Di Barat, beberapa Bapa Gereja perdana - termasuk Origen, St. Leo Agung, dan St. Maximus dari Turin - setuju ada tiga orang majus. Lukisan Kristen Perdana di Roma yang diketemukan dalam makam St. Petrus dan St. Marcellinus menggambarkan dua orang majus dan di makam St. Domitilla, empat orang.
Sejak abad ketujuh di Gereja Barat, para majus diidentifikasikan sebagai Kaspar, Melkior dan Baltasar. Dalam suatu karya tulis berjudul Excerpta et Collectanea yang ditulisSt. Beda (wafat 735) tercatat demikian, “Para majus adalah mereka yang membawa persembahan bagi Tuhan. Yang pertama dikatakan bernama Melkior, seorang tua berambut putih dan berjenggot panjang… yang mempersembahkan emas kepada Kristus bagai kepada seorang raja. Yang kedua bernama Kaspar, seorang muda tanpa jenggot dan kulitnya kemerah-merahan… menyembah-Nya sebagai Tuhan dengan persembahan kemenyan, suatu persembahan yang layak bagi yang ilahi. Yang ketiga, berkulit hitam dan berjenggot lebat, namanya Baltasar… dengan persembahan murnya memberikan kesaksian pada Putra Manusia bahwa ia akan wafat.” Suatu kutipan dari penanggalan para kudus abad pertengahan yang dicetak di Cologne berbunyi, “Setelah mengalami banyak pencobaan dan kelelahan demi Injil, ketiga orang bijaksana tersebut bertemu di Sewa (Sebaste di Armenia) pada tahun 54 untuk merayakan Natal. Kemudian, setelah Perayaan Misa, mereka wafat: St. Melkior pada tanggal 1 Januari, dalam usia 116 tahun; St. Baltasar pada tanggal 6 Januari, dalam usia 112 tahun; dan St. Kaspar pada tanggal 11 Januari, dalam usia 109 tahun.” Martirologi Romawi juga mencatat tanggal-tanggal di atas sebagai pesta masing-masing majus.
Kaisar Zeno membawa reliqui para majus dari Persia ke Konstantinopel pada tahun 490. Reliqui (entah sama atau serupa) muncul di Milano bertahun-tahun kemudian dan disimpan di Basilika St. Eustorgius. Kaisar Frederick Barbarossa dari Jerman, yang menjarah Italia, membawa reliqui ke Cologne pada tahun 1162, di mana reliqui aman tersimpan hingga saat ini dalam sebuah rumah reliqui yang indah di katedral.
Meskipun sebagian misteri tetap tak terungkap mengenai identitas para majus, Gereja menghormati sembah sujud mereka: Konsili Trente, ketika menekankan penghormatan yang patut diberikan kepada Ekaristi Kudus memaklumkan, “Umat beriman Kristus menghormati Sakramen Mahakudus ini dengan penyembahan latria yang diperuntukkan bagi Allah yang benar…. Sebab dalam sakramen ini kita percaya bahwa Allah yang sama hadir, yang diutus Bapa yang kekal ke dalam dunia dengan mengatakan, `Biarlah segenap malaikat Allah menyembah-Nya.' Dialah Allah yang sama yang para Majus sujud menyembah, dan akhirnya, Allah yang sama yang dipuja para Rasul di Galilea seperti dicatat dalam Kitab Suci” (Dekrit tentang Sakramen Mahakudus, 5).
Dengan merayakan Hari Raya Natal dan Epifani (sekarang Hari Raya Penampakan Tuhan), kita pun patut sadar akan kewajiban kita untuk bersembah sujud kepada Kristus melalui doa, sembah bakti, dan perbuatan-perbuatan baik serta kurban. St. Gregorius Nazianze (wafat 389) menyampaikan khotbahnya, “Marilah kita tinggal dalam sembah sujud; dan kepada Dia, yang, guna menyelamatkan kita, merendahkan Diri hingga ke tingkat kemiskinan yang begitu rupa dengan menerima tubuh kita, marilah kita mempersembahkan tidak hanya kemenyan, emas dan mur…, melainkan juga persembahan-persembahan rohani, yang lebih luhur daripada yang dapat dilihat dengan mata” (Oratio, 19).
Mengenai Pohon Cemara/ Pohon Natal

Sejarah pohon natal mungkin ditelusuri sekitar abad ke-8, dimana St. Bonifasius (675-754),
seorang uskup Inggris, yang menyebarkan iman Katolik di Jerman sekitar abad ke-8.
Pada saat dia meninggalkan Jerman dan pergi ke Roma sekitar 15 tahun, maka jemaat yang dia tinggalkan kembali lagi kepada kebiasaan mereka untuk mempersembahkan kurban berhala di bawah pohon Oak.
Namun dengan berani St. Bonifasius menentang hal ini dan kemudian menebang pohon Oak tersebut.
Jemaat kemudian bertanya bagaimana caranya mereka dapat merayakan Natal.
Maka St. Bonifasius kemudian menunjuk kepada pohon fir atau pine, dimana merupakan pohon itu melambangkan damai dan kekekalan karena senantiasa hijau sepanjang tahun.
Juga karena bentuknya meruncing ke atas, maka itu mengingatkan akan surga.
Bentuk pohon yang berupa segitiga dan menjulang ke atas serta hijau sepanjang tahun, inilah mengingatkan kita akan misteri Trinitas, Allah yang kekal untuk selama-lamanya, yang turun ke dunia dalam diri Kristus untuk menyelamatkan manusia.
Maka walaupun memang tradisi pohon cemara tidak diperoleh dari jaman dan tempat asal Yesus, penggunaan pohon cemara tidak bertentangan dengan pengajaran Iman dan Alkitab.
Yesaya 60 : 13
Kemuliaan Libanon, yaitu pohon sanobar, pohon berangan dan pohon cemara, akan dibawa bersama-sama kepadamu, untuk mempersemarak tempat bait kudus-Ku, sebab Aku hendak memuliakan tempat kaki-Ku berjejak.
Dalam hal ini, yang dipentingkan adalah maknanya: yaitu untuk mengingatkan umat Kristiani agar mengingat misteri kasih Allah Trinitas yang kekal selamanya, yang dinyatakan dengan kelahiran Yesus Sang Putera ke dunia demi menebus dosa manusia.
Pax In Christo
Tradisi Gua Natal

Utk membangkitkan gairah penduduk Grecio dalam mengenangkan kelahiran Bayi Yesus dgn devosi yang mendalam, St. Fransiskus memutuskan untuk merayakan Natal dengan sekhidmat mungkin dgn sedikit penggambaran suasana kelahiran Yesus, tentunya atas ijin Uskup sepetmpat. Maka dipersiapkanlah sebuah palungan, jerami, dan seekor lembu jantan serta keledai ke dlm gua tersebut.
Saat Misa dimulai, St. Fransiskus berada di depan palungan, bersembah sujud dalam segala kesalehan, kemudian ia menyampaikan khotbah kepada umat dgn menyebut-Nya "sang Bayi dari Betlehem".
Seorang prajurit bernama Yohanes dari Grecio, karena Misa ini akhirnya meninggalkan kemapanan dunia ini dan menjadi sahabat St. Fransiskus Asisi. Yohanes mengatakan ia melihat Bayi yang sungguh menawan luar biasa, sedang tidur dalam palungan. Penglihatan prajurit yang saleh ini dapat dipercaya, tidak saja karena kesalehan ia yang melihatnya, tetapi juga karena mukjizat-mukjizat yang terjadi sesudahnya meneguhkan kebenaran itu.
Kisah ini diperkuat dengan tulisan St. Bonaventura dlm bukunya “Legenda Mayor: Riwayat St. Fransiskus dari Asisi”
dari sinilah akhirnya Gua natal menjadi tradisi yg dilakukan org2 Katolik, untuk memberi gambaran agar umat menghayati lebih dalam tentang makna kelahiran Juru Selamat....
Semoga bermanfaat
***Christo et Ecclesiae***
