Rabu, 20 Oktober 2010

DISELAMATKAN OLEH KASIH (Bagian 1)

Di depan halaman sebuah gedung yang indah dengan bunga-bunga yang bermekaran, banyak lelaki dan perempuan berpakaian indah dengan aroma yang wangi, berbondong-bondong masuk ke dalamnya .... Rupanya di sana ada jamuan makan yang mewah..

Perempuan itu terpaku dalam diamnya..... Paras cantiknya tidak mampu menyembunyikan gejolak perasaan hatinya. Gembira, suka cita tetapi juga nampak sedih.... Kedua tangannya yang memegang erat botol pualam indah berisi minyak wangi nampak bergetar keras, benda yang nampak sangat berharga sekali, didekapnya erat didadanya. Tubuhnya gemetaran, titik keringat membasahi keningnya... matanya tajam tak berkedip menatap ke dalam gedung mewah itu....

Penampilan perempuan itu nampak menyolok sekali bila dibandingkan dengan tamu-tamu lainnya yang berdatangan, bukan karena kemewahannya, tetapi karena kesederhaaannya. Gaun panjang berwarna putih menutupi tubuh mungilnya. Selendang putih lebar menutupi kepalanya dan menutupi rambut hitamnya yang lebat bergelombang sampai ke pinggang, dan selendang itu menutupi hampir separuh wajahnya. Wajah itu cantik, dan matanya berkaca-kaca... Berkali-kali nampak ia menggigit bibirnya yang mungil dan merah alami, menahan gejolak hatinya yang siap meledak....
Gedung mewah itu adalah rumah Simon, seorang Farisi, yang tengah menjamu tamu-tamunya. Salah seorang yang diundang adalah Yesus. Yesus sangat terkenal sebagai seorang guru yang mengajarkan tentang kebaikan, dan kuasa penyembuhan yang sering dilakukannya pada orang yang menderita sakit.... Ajaran-Nya sangat menyentuh, tentang kebaikan dan suka cita.... Yesus adalah anak Yusuf seorang tukang kayu di Yerusalem.

Yesus merupakan seorang pemuda yang sangat tampan. Wajahnya teduh sekali, tatap matanya lembut.... suaranya halus, menimbulkan rasa tenang dan damai.... Rambutnya panjang tergerai berombak halus ... Dan tatapan mata perempuan muda itu menatap lekat pada Yesus dari tempatnya berdiri...

Perempuan itu masih ingat secara jelas sewaktu orang-orang Farisi dan juga ahli-ahli Taurat menyeretnya dengan kasar dan paksa dari rumahnya menuju ke rumah Tuhan. Meskipun ia berusaha sekuatnya memberontak untuk lepas, namun tangan-tangan kasar itu begitu kuat mencengkeram kedua tangannya, bagai jepitan katip kepiting raksasa. Menyakitkan dan menusuk kedaging lengannya sampai terasa ke tulang belulangnya. Tubuhnya yang kecil mungil bagai terbang, terangkat oleh jepitan tangan-tangan kasar itu. Seberapa kerasnyapun dia berontak, berpuluh-puluh kali lipat juga kekuatan mereka mencengkeramnya.

Perempuan itu begitu ketakutan, air mata bercucuran membasahi pipinya yang halus kemerahan. Perempuan itu cantik sekali, tetapi tidak berdaya.

Sewaktu tubuh yang terlihat lemah dan rapuh itu mereka lemparkan ketengah-tengah halaman rumah Tuhan yang banyak dipenuhi lelaki dan perempuan yang menjerit-jerit dan mengumpat dengan kata-kata yang kasar serta tidak senonoh mencemohkannya. Kata-kata dan umpatan kasar yang seharusnya tidak pantas terdengar keluar dari mulut-mulut lelaki dan perempuan terhormat dengan dandanan yang rapi dan sopan, apalagi itu di rumah Tuhan.... namun kenyataan itu terjadi nyata...

"Perempuan terkutuk.... perempuan sundal.... lempari saja dia dengan batu.... sampai mati.... lempari dia... lempari dia...." begitu suara-suara kerumunan manusia itu bergemuruh. Kekacauan menjadi-jadi. Wajah-wajah nampak berubah menjadi beringas dan kasar mengerikan.... teriakan semakin riuh... dan tidak terkendali...

Perempuan muda itu semakin meringkuk ketakutan... tubuhnya bergetar keras... airmata membanjir deras membasahi pipinya....

Perempuan itu nampak seperti seekor binatang kecil yang tidak berdaya di tengah kerumunan manusia-manusia yang diliputi oleh emosi kemarahan.

Dia bersimpuh di tanah keras halaman rumah Tuhan dengan kondisi yang menggenaskan...

Pakaian putih yang menutupi tubuh mungilnya nampak kotor dan tercabik disana sini... Lengannya yang putih halus dan lembut nampak memerah dan tergores luka yang nampak masih mengeluarkan darah merah membasahi lengan dan bajunya yang terkoyak.. Rambut lebat hitam bergelombang tergerai berhamburan dan tidak beraturan sampai kepinggang....menutupi sebagian wajah dan dadanya yang penuh, yang juga nampak sebagian terbuka... karena beberapa kancing baju yang terlepas. Perempuan itu cantik sekali ditengah ketidak berdayaannya.... wajahnya lembut dan halus dengan mata yang menatap ketakutan.... hidungnya mancung dengan bibir mungil merah yang bergetar karena tangis.... Dan pakaian kotor tercabik-cabik itu sama sekali tak mampu menyembunyikan keindahan tubuhnya yang indah dengan lekukan sempurna dan kulit tubuh yang lembut, putih dan bersinar.........

Rasanya aneh sekali melihat manusia selembut, secantik dan begitu tidak berdaya... diperlakukan demikian kejam dan kasar....

Teriakan dan hujatan kasar, kotor semakin menjadi-jadi ditujukan padanya.

"Lempari saja dia dengan batu.... sampai mati.... perempuan kotor..... perempuan sundal... Jangan biarkan dosanya semakin mencemari kita....." teriak mereka.... Dan teriakan itu disambut riuh dengan teriakan-teriakan lain yang menyetujui saran mengerikan itu...

Dengan ketakutan dan tubuh bergetar perempuan itu menatap kerumunan massa yang menggerumuninya dari balik air matanya dan rambut hitam panjangnya yang tergerai menutupi sebagian wajahnya....

Hatinya bergetar perih..... dia semakin merintih dalam tangis dan ketakutan..., di antara kerumunan manusia terhormat dihadapannya.... dia melihat ada banyak lelaki yang telah dikenalnya dengan cukup baik dan bahkan juga mengenalnya sangat baik.... bukan hanya secara formal tetapi bahkan setiap inci dari tubuhnya, mereka telah kenal dengan sangat akrab... Malah dia yakin, lelaki-lelaki itu lebih mengenal segala keindahan yang ada pada dirinya daripada dirinya sendiri mengenal tubuhnya.

Lelaki-lelaki itu sekarang menjadi manusia yang asing buatnya .... lelaki-lelaki yang aneh dan berubah wujud menjadi lelaki-lelaki yang tidak dikenalnya lagi.... lelaki yang biasa bermulut manis dan berwajah memelas karena menginginkan kehangatan dan kewanitaannya.... kini berubah menjadi manusia yang menatapnya dengan kemarahan, rasa jijik dan berteriak-teriak mengeluarkan kata-kata yang sangat kotor.... bahkan dia-pun sangat ngeri mendengarnya....

Perempuan itu ingat statusnya sebagai perempuan berdosa... perempuan sundal.... dan dia mengerti karena status itulah dia sekarang berada di halaman rumah Tuhan, rumah yang dulu sekali.... sewaktu dia kanak-kanak sering dikunjunginya.... bahkan merupakan rumah ke dua baginya... karena di rumah itu dia memperoleh banyak suka cita dan kegembiraan bersama teman-teman kecilnya, bernyanyi memuji Tuhan.... dan mendengar cerita tentang betapa baiknya Tuhan dalam kehidupan manusia....

Tapi itu dulu sekali.... meski ingatan itu masih sangat membekas di hatinya....., kenangan terindah dalam hidupnya.... namun sekaligus dia membencinya.... sangat membencinya....

Dia membenci semua kecantikan yang ada ditubuhnya, kecantikan dan kemolekan sempurna yang menjadi kecemburuan teman-teman gadisnya yang lain.... kecantikan dan kemolekan yang sekaligus menjadi pujaan dan sanjungan teman-teman lelakinya dan setiap orang yang menatapnya.... Dia begitu bersinar dengan kecantikannya.... dan sifat lemah lembutnya sangat disenangi semua orang.... Dia sosok perempuan yang cantik, lembut dengan perilaku yang disenangi....

Dia suka menolong dan banyak menghabiskan waktunya untuk kegiatan sosial...... terutama terhadap anak-anak kecil yang kurang beruntung yang terdampar dirumah yatim piatu....

Dengan kesederhanaan hidupnya, karena dia hanya tinggal dengan ibunya yang telah tua disebuah rumah kecil sederhana yang bersih dengan taman bunga yang indah bermekaran, di bangunan rumah yang nyaris mau rubuh .... Dia bekerja keras membantu orang-orang yang butuh bantuannya, mencuci... memasak....bekerja di ladang, sampai mengangkut batu di sungai untuk dijual di tempat bangunan. Dan dari hasil kerja keras tersebut sebagian digunakan untuk mencukupi kebutuhannya dan ibunya, sedangkan sebagian besar lainnya dibelikannya bahan-bahan makanan untuk teman-temannya di panti asuhan.... Dan itu terus berjalan hari lepas hari...

Bekerja keras...., membagikan hasilnya ke rumah yatim piatu, beribadah di rumah Tuhan, itulah yang dilakukanya dengan setia. Banyak sahabat.... banyak teman... dan banyak saudara.... meskipun bukan sekandung atau sehubungan darah dengannya, karena memang dia dan ibunya di kota itu hanyalah perantau yang mencoba peruntungan hidup...

0 komentar:

Posting Komentar