Selasa, 03 Mei 2011

BAHASA ROH

Karunia bahasa roh ini merupakan manifestasi / pernyataan kuasa dan kehadiran Allah yang memampukan seseorang secara adikodrati untuk menyampaikan pesan Tuhan dalam suatu bahasa yang tidak dikenalnya, untuk umat Allah yang hadir. Mengenai karunia bahasa roh ini akan dibahas sebagai berikut:

1. Pengertian Bahasa Roh.

Bahasa roh berasal dari kata Yunani glossa yang berarti suatu bahasa atau lidah dan lalein yang berarti berbicara atau berkata-kata. Dalam bahasa Inggrisnya menggunakan istilah tongue untuk kata glossa dan speaking untuk lalein. Istilah lengkap dalam bahasa Inggris adalah speaking in tongues. Sedangkan dalam bahasa Indonesia berarti berbicara dalam bahasa lidah (Sumakud, 2005:8).

Dalam Perjanjian Baru bahasa roh adalah gejala yang sangat biasa, bahwa orang yang dipermandikan dalam Roh Kudus mulai berbicara dalam bahasa roh. Bahasa roh ini merupakan tanda yang paling mudah untuk mengenali, apakah seseorang itu telah menerima Roh Kudus atau belum (Kis.2: 1-4, Kis.10: 44-47, Kis.!9:6, dll). Berbahasa roh itu adalah sesuatu yang amat wajar, dan merupakan hal yang amat biasa dalam Perjanjian Baru. Karunia bahasa roh ini diberikan bukan kepada orang yang sudah sempurna atau telah mencapai suatu kematangan rohani tertentu, melainkan justru diberikan kepada setiap orang, bahkan orang yang baru dipermandikan dan yang belum banyak pengetahuan agama atau imannya. Ingat! Bahasa roh itu merupakan salah satu tanda bahwa seseorang itu telah menerima Roh Kudus. Karena masih ada tanda lain lagi dan bahkan lebih penting yaitu Buah Roh Kudus (Gal.5: 22-23).

2. Dasar Kitab Suci.

”lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, (Kis. 2: 4)

”Mereka bingung…mendengar Rasul2 itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri (Kis.2: 6)

“Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya, …(Mrk. 16: 17- 18).

“sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah (Kis.10: 46).

“…dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan berbubuat” (Kis. 19: 6).

“…berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kpd Allah (I Kor.14: 28).

Dll.

3. Ada 3 Jenis dalam Karunia Bahasa Roh.

A. Karunia mukjizat / Karunia berkata-kata dalam bahasa asing (Kis.2: 6-11, I Kor.14:22)

berbagai macam orang yang hadir di Yerusalem pada waktu Pentakosta, mereka mendengar para Rasul berkata-kata dalam bahasa yang dipakai di negeri asalnya, misalnya, misalnya yang hadir, ada oarng Partia, Media, Elam, Kapadokia,…Mesir dan daerah sekiarnya. Selain itu juga hadir orang penganut agama Yahudi, orang Kreta dan juga orang Arab.

B.Berupa pesan, untuk karunia ini harus ada yang menafsirkan (I Kor.14: 26-27), dalam hal ini dapat dikatakan bahwa pesan Allah yang berupa nubuat ini disampaikan dalam bentuk kata-kata bahasa roh, yang perlu ditafsirkan agar orang-orang mendengarkan pesan itu dapat mengerti.

C. Berupa Doa, mengenai hal ini ada dua sifat, yaitu: 1). didoakan secara lantang (tidak didoakan dalam hati), dan (2) tidak verbal atau tidak dimengerti (I Kor. 14: 2). Doa dalam bahasa roh ini dapat disampaikan dengan kata-kata yang dapat didengar oleh orang-orang yang hadir, tetapi tidak dimengerti (non verbal), dan doa ini juga dapat disampaikan secara diam (dalam hati).

4. Perbedaan Karunia Berdoa Dalam Roh Dengan Karunia Berkata-kata Dalam Bahasa Roh.

Karunia berdoa dalam roh

a. Bersifat tetap, maksudnya karunia ini dpt diperoleh seseorang dan sejak saat itu karunia tersebut berada dalam dirinya dan dapat digunakan setiap saat, kapan saja, dan seturut kehendaknya.

b. Cara memperolehnya pada umumnya berawal dari pada saat seseorang mengalami pencurahan Roh Kudus (namun demikian karunia bahasa roh ini tidak selalu diterima pada waktu pencurahan Roh Kudus), tetapi pada saat seseorang mengintensifkan kualitas hidup rohaninya, misalnya pada saat menerima sakramen inisiasi.

c. Pada umumnya karunia ini diberikan kepada setiap orang Kristen, terutama jemaat yang membuka hatinya. Karunia ini merupakan karunia doa yang memampukan seseorang untuk masuk ke dalam kontemplasi yang mendalam.

d. Pada umumnya karunia ini merupakan karunia doa; doa pujian, ucapan syukur dan doa permohonan.

e. Karunia ini lebih bersifat personal, untuk pertumbuhan, dan membangun relasi pribadi dengan Tuhan.Jadi tidak perlu ada penafsiran.

Karunia berkata-2 dengan bahasa roh.

a. Bersifat tidak tetap (sementara atau sesaat), artinya hanya pada saat-saat tertentu saja, di mana Allah berkenan menyatakannya.

b. Jemaat yang sudah dewasa rohaninya, yang membuka hati guna dipakai Tuhan untuk menyamnpaikan SabdaNya.

c. Pada umumnya karunia ini hanya diberikan pada jemaat yang sudah dewasa rohaninya, karena mereka sudah lebih peka dan lebih mampu membedakan mana gerakan Roh, dan mana yang bukan!

d. Lebih bersifat nubuatan artinya karuinia ini lebih merupakan pernyataan Sabda Allah.

e. Pada umumnya disampaikan dalam persekutuan doa (PD), ditujukan pada jemaat yang hadir untuk; menghibur,mengajar, pertumbuhan rohani jemaat, dan lain-lain

5. Penggunaan Karunia Bahasa Roh.

a. Karunia doa pribadi (I Kor. 14: 2, 4).

Dalam I. Kor.14: 2 disebutkan bahwa siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sedangkan dalam I Kor.14: 4, dikatakan bahwa siapa berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, dan pada saat seseorang berdoa dalam bahasa roh, maka rohlah yang berdoa dan akal budi tidak turut berdoa (I Kor. 14: 14, Bandingkan juga dengan Roma 8: 26-27).

b. Menyanyi dalam roh (I Kor. 14: 15).

Karunia ini merupakan karunia doa pujian, yang seringkali diwujudkan dalam bentuk nyanyian yang disebut menyanyi dalam roh atau disebut juga bersenandung dalam roh. Dalam I Kor. 14: 15 Paulus menulis bahwa selain ia berdoa dengan akal budi, dia juga akan menyanyi dan memuji Allah dalam rohnya.

c. Dalam wujud bahasa malaikat (I Kor. 13: 1).

Berdoa dalam bahasa roh seringkali berbentuk kata-kata yang disampaikan pada Allah tetapi tidak dimengerti oleh yang mendoakan ataupun orang lain yang mendengarnya, hal inilah yang disebut berkata-kata dengan bahasa malaikat. (Bandingkan I Kor. 14: 2).

d. Berkata-kata dalam bahasa roh (I Kor.14: 26-28).

Berkata-kata dengan bahasa roh, seringkali juga dimksudkan sebagai karunia bernubuat, yang mana dalam hal ini orang yang mengucapkan kata-kata tersebut tidak mengerti apa yang dikatakan dan yang mendengar juga tidak mengerti, maka untuk itu dibutuhkan karunia penafsiran. Karunia berkata-kata dalam bahasa roh ini harus ditafsirkan karena kata-kata berupa pesan yang disampaikan berguna untuk membangun jemaat. (I Kor. 14: 4).

6. Manfaat Bahasa Roh.

a. Doa dalam bahasa roh sangat bermnanfaat untuk memuji Allah secara lebih mantap dan konsisten, serta mendalam (Kontemplasi).

b. Berdoa dalam bahasa roh yang bersifat adikodrati ini dapat membantu dan memyemangati seseorang untuk memenuhi panggilan Allah guna berdoa secara terus-menerus.

c. Berdoa dalam bahasa roh menjadikan seseorang yang secara teratur/ tekun mendoakannya semakin peka akan bimbingan Roh Kudus.

d. Merupakan “pintu” untuk memasuki karunia karismatik lainnya secara lebih efektif.

e. Memberi perasaan tenang, damai, dan hening terutama pada saat seseorang dalam keadaan sedih atau bingung.

f. Doa dalam bahasa roh merupakan suatu bentuk doa permohonan yang sangat efektif terutama pada saat seseorang tidak tahu secara pasti apa yang harus didoakan, misalnya pada saat seseorang mendoakan orang sakit yang belum tahu pasti sumber penyakitnya.

g. Dan lain-lain.

7. Cara Memperolehnya.

a. Bekerjasama antara manusia dengan Roh Kudus.

b. Menyingkirkan halangan, dan melakukan faal iman, dasn percaya Tuhan memberikannya.

c. Orang yang mendoakan, berdoa dalam bahasa roh dengan suara yang keras, sedangkan orang yang didoakan menirukannya dengan mengucapkan beberapa kata dalam bahasa roh yang pertama, yang mana hal ini berarti bahwa orang tersebut telah menyerahkan diri keapada karunia ini!

d. Orang tersebut dapat berdoa dalam bahasa roh yang berbeda dari orang yang mendoakannya!

“Bahasa roh juga sepeerti karunia lainnya,bukan tanda kesucian atau tanda keunggulan iman!”

Sumber Referensi:

Kitab Suci

Bahan Retret Pengembangan Karunia, Kamis s.d. Minggu, 19 s.d. 22 Nopember 1992, Ngadireso – Tumpang, Malang.

Bertumbuh dalam Karunia-karunia Roh Kudus, Sebuah Buku Panduan yang disusun oleh Komunitas Tritunggal Mahakudus.

Kemitraan Allah dengan Manusia, Rteret Imam Sumatera III, 1998 oleh Fr. Fio Mascarenhas, SJ.

Pembaharuan Karismatik Katolik, Buku Pegangan Untuk Para Pemimpin dan Peminat PKK, 1996 Fr. Fio Mascarenhas, SJ., terjemahan Rm. F.X. Soekarno, OSC.

Aneka Karunia, Satu Roh Surat Gembala Mengenai Pembaharuan Karismatik Katolik

Konferensi Waligereja Indonesia, 2006

Karunia Sabda Pengetahuan, Penuntun Praktis Pemecahan Masalah Kehidupan, oleh Fr. Robert DeGrandis, S.S.J. 1993

Discerment, Karunia Membeda-bedakan Roh, oleh Rm. L. Sugiri v.d. Heuvel, SJ dan Rm. B. S. Mardiatmadja, SJ, 2006.

Mungkinkah Karismatik Sungguh Katolik? Sebuah Pencarian, oleh Rm. Deshi Ramadhani, SJ. 2007.

The Gift of Tongues, Fr. Robert DeGrandis, S.S.J, USA., 1983.

Suara-Suara Surgawi, Sumakud, Hendra Ignatius, A. Centra Print, 2005.

Glossa, DR. Yohanes Indrakusuma, O.Carm, Batu, 1979.

0 komentar:

Posting Komentar